I Was Lain by “5 cm”

Posted on Februari 27, 2009

4


Pertama kali membaca judulnya “5 cm”, aku langsung memberi stereotip bahwa buku ini termasuk dalam golongan buku-buku yang “jorok”. Underestimate-ku bertambah yakin setelah membaca deskripsi mengenai enam orang–Arial, Riani, Zafran, Adrian dan Genta–yang menjadi subjek cerita Donny Dhirgantoro di dalam buku ini. Yang menjadi argumenku menilai dengan stereotip seperti itu adalah bahwa titik tolak cerita itu berasal dari sebuah “tongkrongan” lima orang sahabat yang hidup berdasarkan keliberalisan mereka di Jakarta—tempat mereka tinggal.

They only do everything makes them happy. Nongkrong bareng, canda tawa, jalan-jalan, nonton film, mengecap dan mencicipi kafe-kafe dan rumah makan-rumah makan yang ada di Ibukota, tempat kediaman mereka. Mereka benar-benar tidak mengetahui kehidupan luar selain happy and ngakak-tawa bareng-bareng. Pokoknya, mereka adalah orang-orang oportunis habis.

Underestimate-ku semakin meruncing setelah tahu bahwa salah satu lakonnya, Ian, ternyata seorang yang memiliki hobi nge-game, PS, dan kolektor VCD, dalam bahasa mereka, pieces of lust. Selain itu semua mereka para pengidola berat musik. Pada intinya, di bagian-bagian pertama buku ini aku didikte untuk mengatakan bahwa itu hanyalah buku yang menceritakan hangar-bingar dan kebobrokan anak muda Jakarta, tak berbeda dengan buku Jakarta Under Cover.

In a few beginning part of the book I was lain. Sampai pada bagian yang menceritakan teori gua Plato, baru aku mengerti bahwa ada teka-teki menarik dalam buku ini. teka-teki yang sangat filosofis sekali karena aku diajak untuk berpikir out of the box, berpikir ke luar dari kerangka-kerangka yang telah ada. Hanya dengan seperti itu kita akan menemukan hal baru, menemukan perubahan yang pasti akan lebih memperluas cakrawala pemikiran kita. Tidak hanya berkutat pada pusaran yang “itu-itu saja”.

Setelah memutuskan untuk keluar sementara dari gua ‘tongkrongan barengnya”, mereka mulai memutuskan hal-hal lain yang penting bagi masing-masing mereka dan mesti diselesaikan. Perubahan-perubahan mulai mengalir pada diri mereka. Semua impian, asa, cita-cita, harapan dan semangat mereka mulai mereka tumbuhkan.

Dan ternyata dengan impian, cita, dan semangat mereka, dalam waktu yang teramat singkat semuanya bisa teraih. Ian alias Adrian, hanya dalam waktu dua bulan, bisa menyelesaikan skripsinya dan tinggal menunggu wisuda. Meskipun hal itu harus dibarengi dengan mondar-mandir ke kampus bertemu dengan dosen pembimbingnya, Sukonto Legowo, yang baik dan perhatian serta kegagalannya mengajukan penelitian di dua perusahaan. Dan ahirnya semua kerja keras dan usaha uletnya terbalas oleh seorang yang ditemuinya di halte bus pinggir jalan—mas Fajar. Begitu pula dengan Riani yang telah berhasil menempati posisi di liputan. Tak kalah juga Genta, dia berhasil menyukseskan acara launchingnya yang sebelumnya idenya sempat dicibir oleh banyak rekannya karena illogical banget. Akan tetapi, ke-illogocalan-nya yang disertai usaha tekun dan ulet membuahkan hasil yang memuaskan.

Setelah tiga bulan, waktu yang telah mereka sepakati untuk tidak saling betemu dan berhubungan, ahirnya mereka bertemu kembali. Pertemuan itu dikemas dalam acara yang sangat menarik dan memberikan banyak pelajaran berharga bagi mereka berlima, eh, berenam karena ditambah seorang lagi yaitu adiknya Adrian, Arinda. Mereka semua, atas ide dan gagasan Genta, pergi menaklukkan tanah tertinggi di pulau Jawa, Gunung Mahameru yang tingginya mencapai 3673 meter dari permukaan laut.

Dan petualangan itu hanya sebuah refleksi dari asa dan impian. Mereka harus menaklukkannya, karena dunia hanyalah milik orang yang mampu menaklukkannya. Dan meski ada hambatan, apa pun bentuknya, bagaimana pun besarnya, mereka tetap harus meraih impian itu. Harus.

Di sinilah aku telah dibohongi 5 cm. Yang ternyata itu adalah; jika kamu memiliki mimpi, keinginan atau cita-cita, taruhlah itu di depan kening kamu menggantung atau mengambang sejauh lima centimeter. Jadi, ia tidak akan lepas dari matamu.

Dan itulah pesan yang ingin diosampaikan di dalam novel ini. Just put our aim in front of our brain and gain it till you catch. Sungguh menyemangati kita meraih mimpi.

Posted in: Me and Books