111208

Posted on Februari 28, 2009

0


Apa yang harus kutuliskan? Apa yang harus kuperbuat? Apa yang harus kujalankan? Haruskah semuanya hanya menjadi impian-impian di alam ide saja. Tidakkah mungkin semua khayalan, impian, harapan, dan cita-cita akan bisa dilaksanakan? Padahal hidup selalu berubah, berputar, bergerak, dan dinamis. Tidak pernah berhenti, mati, dan statis. Hidup adalah gerak. Mati adalah diam.

Impian-impian yang bergelantung hanya terus akan menjadi impian saja di alam ide selama tidak dibarengi dengan gerakan-gerakan realisasi. Tindakan-tindakan nyata dan langkah serius. Angan, impian, harapan, dan cita-cita tak ubahnya mimpi karena semuanya adalah kehendak-kehendak yang akan dicapai pada masa mendatang. Pada masa setelah kita impikan. Bukan masa saat impian itu terjadi. Jadi, impian adalah impian, dan mewujudkannya perlu tindakan jelas dan pasti. Bukan hanya sekadar memapankannya dalam dunia ide saja.

Biar bagaimana pun, tidak ada orang yang sukses dengan impian-impian mereka saja. Kalau ada orang yang berbicara “mimpi-mimpi akan merubah kita” orang itu telah membohongi anda secara telanjamg. Bullshit! Mustahil sama sekali. Kalau dia menyatakan dia adalah buktinya, tanyakanlah kepadanya apa yang dia lakukan dengan impian itu. Di sanalah jawaban keberhasilan itu. Bukan pada impiannya. Karena—sekali lagi saya tegaskan—impian itu hanya ada dalam alam ide, bukan alam nyata. Alam ide teresebut kalau ingin terlaksana dan terjalankan harus dipindah ke dalam alam wujud atau alam nyata. Dengan apakah memindahkannya? Apakah dengan truk, kapal, pesawat, ataukah kereta api? Jawabannya adalah dengan tindakan dan realisasi ide itu sendiri. Bukan dengan pikiran lagi. Karena, jika ide itu dipindahkan dengan pikiran lagi ke dalam dunia nyata, hanya akan menghamburkan waktu dan tenaga saja. Hanya akan banyak perdebatan –yang seharusnya tidak perlu terjadi—kusir. Waktu yang digunakan untuk berdebat itu lebih baik digunakan untuk menjalankan ide yang telah ada, karena akan lebih mempercepat hasilcapaiannya daripada dihamburkan dalam perdebatan.

Jadi, kalau ingin bermimpi dalam satu persoalan, cukuplah mimpi sekali saja. Jangan terus-terusan bermimpi karena kalau terlalu asyik bermimpi akhirnya akan membunuh sikap dan tindakan yang seharusnya dilakukan untuk mewujudkan mimpi tersebut. selain itu, karena terlalu banyak bermimpi hanya akan mewarisi kemalasan. Membayangkan hal-hal yang tidak realistis. Terlalu mengagungkan idealistis yang tidak bercermin pada keadaan nyata yang ada.

Untuk itulah, agama—dalam hal ini Islam—juaga melarang berangan-angan terlalu tinggi. Mengapa? Karena hanya akan membuka kesempatan pada setan-setan—kemalasan dan keengaanan bekerja dan berbuat—untuk mengganggu kita semua. Dan setan—dalam artian di atas—hanya bisa menjanjikan impian-impian dusta, kosong, dan palsu.

Mimpi tinggi itu—dalam pemahamanku sendiri—boleh-boleh saja asalkan disertai dengan usaha yang keras dan ulet pula dalam merealisasikannya—selama dalam batas kemampuan seseorang. Pelarangan agama akan hal tersebut berlaku—masih dalam pemahaman saya—jika tidak dibarengi dengan usaha gigih dan ulet untuk mewujudkannya.

Mungkin nash “Sesungguhnya Allah menyukai jika seseorang mengerjakan suatu pekerjaan, dia menjalankannya dengan serius” bisa menjadi justifikasi asumsi saya. Menjalankan pekerjaan dengan serius tentunya didahului kehendak dan latar belakang. Latar belakang itulah yang merupakan mimpi atau harapan. Jika mimpi itu hanya biasa-biasa saja, tidak muluk-muluk, tentunya bisa dijalankan dengan santai juga. Artinya, dengan tidak serius sudah dapat tercapai—bagaimanapun hasilnya. Akan tetapi, jika mimpi itu tinggi, tentu membutuhkan keseriusan yang berlipat ganda. Tidak bisa dikerjakan dengan santai dan biasa-biasa saja. Karena konsekuensinya adalah kegagalan yang besar pula.

Untuk itulah, balancing atau keseimbangan antara mimpi dan cara mewujudkannya harus tetap sepadan. Tidak boleh cara mewujudkannya lebih kecil dari impian. Akan tetapi tidak sebaliknya. Karena jika impian tidak terlalu tinggi sedangkan pewujudannya dilakukan dengan maksimal akan menghasilkan buah yang baik. Dan mungkin bisa menghasilkan jalan-jalan perealisasian yang lebih baik dan lebih menjanjikan lagi.

Pada intinya, setiap impian harus dibarengi dengan perwujudan yang pasti. Bukan terus nyenyak dalam impian tanpa bergerak dan bertindak.

Iklan
Posted in: "CaPer"