Fabel

Posted on Februari 28, 2009

0


Saya hanya seorang pekerja rendahan di sebuah kantor yang cukup besar di Ibukota. Istilah keren yang sering saya pakai untuk berbangga diri kepada keluarga dan sanak famili di desa adalah cleaning service. Dengan sedikit membusungkan dada di depan mereka ketika ditanya tentang jenis pekerjaan, saya menjawab dengan istilah tadi. Tanpa menimpali pertanyaan lanjutan mereka biasanya langsung mengangguk-anggukkan kepala. Seolah-olah telah paham bahwa jabatan saya di kantor itu cukup tinggi. Padahal kalau saya mengatakan dengan kata-kata yang populer dan sesuai dengan tingkat kecerdasan orang-orang desa kami, mereka pasti akan berkata ”jauh-jauh ke Ibukota hanya untuk menjadi tukang sapu”.

Kalau saya sendiri sebenarnya tak memedulikan bekerja sebagai apa saja yang penting halal dan diridhai Tuhan, karena saya seorang yang mengaku beriman dan percaya akan agama dan ajaran-ajarannya. Selama pekerjaan itu tidak dilarang oleh teks-teks agama, saya akan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Tapi, yang namanya orang tak memiliki banyak pengetahuan, tahunya kalau ada orang yang bekerja di kota besar berarti dia sudah menjadi orang gedean.

Saya masih ingat waktu liburan lebaran pertama setelah bekerja, seorang tetangga yang umurnya sudah cukup tua bertanya mengenai pekerjan saya. Saya menjawab dengan penuh rendah diri ”cleaning service”. Tanpa mengorek lebih lanjut apa itu cleaning service, dia langsung melempar pertanyaan “kenapa tidak membawa mobil, menghindari kemacetan ya?” “Memang kalau sudah macet itu susah ya” tambahnya. Mendengar pertanyaan itu saya hanya tertawa geli.

Semua orang di kantor tempat saya bekerja sangat baik terhadap saya. Saya sering dikasih tambahan ongkos dari kantong pribadi mereka selain gaji bulanan dari kantor. Mereka senang mendapatkan pekerja seperti saya. Sampai-sampai para pimpinan kantor pun mengenali diri saya. Mereka tahu kalau saya selalu melaksanakan tugas dan pekerjaan saya dengan baik. Dan memang itulah prinsip yang saya pegang. Mengerjakan sesuatu sebaik mungkin.

Selain bertugas membersihkan seluruh kantor, tugas lain saya adalah menyiapkan minum para pegawai dan staf kantor. Dan mungkin karena sering dimintai membuatkan minuman itulah yang membuat mereka mengenal baik dengan diri saya.

Orang-orang di kantor itu sering cerita kalau pekerja sebelum saya orangnya tidak cekatan, dia bekerja semaunya. Kata mereka, dia kurang memiliki rasa tanggungjawab seperti diri saya. Menyapu lantai saja tidak pernah bisa bersih. Masih saja selalu ada kotoran yang tersisa. Karena selalu ada sisa-sisa kotoran, maka muncullah beberapa hewan-hewan yang sangat menjijikkan bagi orang-orang kantoran seperti tikus, kecoak, dan semacamnya.

Karena merasa jijik dengan hewan-hewan semacam itu, mereka sering memanggil cleaning service itu dan memarahinya. Suasana di kantor menjadi tidak nyaman. Para pegawai kantor itu menjadi merasa risih mengnjakkan kaki di kantornya sendiri. Suasana menjadi sangat runyam dan tak terkendali. Pernah suatu saat seorang pegawai wanita menjerit sejadi-jadinya saat membuka laci meja kerjanya. Dilihatnya beberapa kecoak berkeluyuran di antara dokumen-dokumen kerjanya. Kejadian itu membuat orang sekantor tersentak kaget. Mereka mengira ada sesuatu yang terjadi dengan wanita tersebut.

Mulai saat itu, para pegawai mulai berbisik-bisik untuk mengganti tukang sapu yang bekerja di kantor itu. Dan akhirnya, Kaslan, tukang sapu kantor itu diberhentikan dari tugasnya sebagai pegawai di kantor yang cukup besar itu. Mendengar cerita para pegawai di kantor itu, saya merasa kasihan juga dengan nasib Kaslan. Pastinya dia hanya orang kecil seperti saya. Pikiran saya membayangkan bagaimana kalau dia sudah berkeluarga, dengan apa dia menghidupi keluarganya setelah diberhentikan dari kantor itu?

Sebelum saya mulai melaksanakan pekerjaan di kantor itu, mereka memberi banyak sekali wejangan supaya saya membersihkan kantor itu dengan benar serta mengusir segala kecoak dan tikus-tikus yang ada di setiap ruangan kantor. Mereka menakut-nakuti kalau saya tidak bisa mebersihkan kantor itu dari berbagai hewan-hewan yang mnjijikkan itu, umur saya bekerja di kantor itu tidak akan lama. Sama seperti pegawai sebelum saya. Akan tetapi saya meyakinkan mereka bahwa saya telah terbiasa menghadapi hewan-hewan semacam itu di desa tempat tinggal saya. ”Semuanya akan beres” tegas saya saat itu.

Tapi, ucapan saya itu memang terbukti. Setelah beberapa bulan bekerja, Saya berhasil mengusir kecoak dan tikus-tikus dari seluruh ruangan kantor itu. Hewan-hewan itu tidak kembali menimbulkan persoalan bagi seluruh pegawai kantor. Saya mengusirnya dengan memberi semacam racun serangga yang sering saya gunakan di rumah dulu.

Karena keberhasilan mengusir hewan-hewan menjijikkan tersebut, saya menjadi orang yang penting di kantor. Mereka tidak memberhentikan saya sebagaimana pekerja sebelum saya. Mereka memercayakan segala urusan kebersihan kantor kepada saya seolah-olah di tangan saya semuanya ditanggung beres dan bersih.

Sampai suatu hari saya terkaget mendengar jawaban mbak Win, salah seorang pegawai atasan di kantor, ketika saya tanyakan megapa banyak sekali polisi yang datang di kantor. Dia menjawab kalau para polisi itu mencari hewan yang berkeliaran di kantor kami. Saya, sebagai seorang yang dipercaya sebagai tukang bersih-bersih di kantor tidak bisa diam membiarkan polisi-polisi itu. Dengan perasaan agak sedikit ndongkol, saya temui polisi-polisi itu.

”Pak, saya orang yang bertanggungjawab atas kebersihan di kantor ini. Saya bisa menjamin bahwa kantor ini bersih dari hewan-hewan yang bapak cari. Kalau bapak tidak percaya silakan tanya pada seluruh pegawai yang ada di kantor ini. Sejak saya bekerja di kantor ini, semua jenis hewan yang selalu mengganggu keharmonisan kantor telah saya usir. Saya telah menjebak hewan-hewan tersebut dengan racun yang sangat mematikan.” Panjang lebar saya meyakinkan polisi-polisi tersebut bahwa kantor ini bersih dari segala jenis hewan yang mereka cari.

”Lagian juga sejak kapan tugas polisi seperti bapak ini beralih menjadi pemburu binatang? Bukankah tugas bapak menangkap para penjahat dan pelaku kriminal?” Tanya saya menghardik polisi-polisi itu.

Salah seorang dari mereka yang berjaket kulit hitam dan berkacamata hitam maju mendekati saya.

”Mas, hewan yang saya cari bukan hewan biasa. Bukan kecoak kantor, bukan juga tikus-tikus yang telah anda racuni.”

”Lalu, hewan apa yang bapak cari? Kantor ini telah saya bersihkan semuanya, tidak seekor hewan pun saya temukan di kantor ini!”

”Mas, jenis hewan yang satu ini sangat berbahaya jika dibiarkan terus berkeliaran di kantor-kantor. Karena dia tidak hanya memakan makanan yang biasa kita makan, akan tetapi dia sejenis omnivora, hewan pemakan segala. Jika dibiarkan, banyak rakyat yang akan dirugikan. Bahkan negara juga akan rugi akibat ulah hewan yang satu ini.”

”Memang ukuran perutnya seperti perut kita, pas-pasan, tidak terlalu besar. Meskipun begitu, perut itu mampu membuncit dan menampung segala jenis barang yang—menurutnya—bisa menyumpal perutnya. Perutnya bagaikan perut karet yang bisa mengembang. Dia bisa menelan kertas, saham, logam, dan jenis-jenis yang lain. Lebih-lebih kertas-kertas yang telah berbentuk uang, segera saja akan lenyap jika dia memiliki kesempatan untuk memegangnya. Hewan ini, jika melihat uang, matanya langsung berwarna hijau. Kepalanya terpenuhi rasa ingin segera melahapnya tanpa memedulikan uang itu milik siapa. Giginya seperti menampakkan taring, menantang orang lain yang akan menjauhkan uang itu dari tikamannya. Yang penting kantong sakunya penuh dan selalu bertambah. Hewan ini sangat membahayakan sekali pokoknya.”

”Pak, ini bukan jaman takhayul lagi. Mana ada hewan yang perutnya mampu menelan bermacam barang dan mengembang. Apalagi memiliki mata yang bisa menghijau saat melihat uang. Bapak jangan mengada-ada deh! Cerita seperti itu hanya ada di jaman dulu ketika dinamisme dan animisme menyelaputi kehidupan masyarakat. Memangnya bapak bukan seorang yang beragama?” Tanya saya mengahiri argumentasi.

Terlihat tugasnya mendapat halangan, laki-laki itu mengeluarkan sepucuk surat dari saku dalam jaket hitamnya.

”Ini surat tugas kami, jadi kami mohon saudara tidak menghalangi tugas yang sedang kami emban.”

”Ya, silakan bapak melaksanakan tugas bapak, tapi saya yakin hewan yang bapak maksud tidak akan ditemukan di kantor ini.” Saya menjawab dengan nada penuh kepastian akan kegagalan polisi-polisi itu menemukan apa yang mereka cari.

Sementara para polisi itu berjalan menuju ke lift, entah menuju ke ruang mana, saya gremengan bersama para pegawai kantor yang ada di sekitar saya di lantai dasar mengenai para polisi itu. ”Kita tumggu saja hasil mereka di sini, saya yakin mereka tidak akan mendapatkan apa-apa sama sekali.”

Cukup lama kami berada di depan pintu keluar di lantai dasar, menunggu polisi-polisi itu kembali dengan cengar-cengir karena tidak mendapatkan hewan yang mereka cari. Mungkin lebih dari satu jam-an. Pintu lift terbuka, kami semua tercengang ketika melihat pak Suryono, pemimpin tertinggi kantor ini, tangannya terborgol dikawal beberapa polisi yang tadi berdebat dengan saya. Dan saya baru saja sadar kalau ternyata hewan berbahaya itu adalah pemimpin tertinggi kantor saya bekerja sendiri.

Cairo, 07 juli 2008

Iklan
Posted in: cerpen