Metafor Matahari dalam ” Matahari di Atas Gilli”

Posted on Maret 10, 2009

0


Membaca “Matahari di Atas Gilli” karya Lintang Sugiarto, kita dituntun kepada sebuah metafora bahwa kehidupan bak matahari, selalu timbul dan tenggelam dari ufuk timur dan perlahan berjalan menuju ufuk barat bumi. Tak pernah berhenti dan stagnan di sebuah titik, baik di sebelah timur, atas, maupun barat. Atau bahkan menghilang selamanya seperti di malam hari. Hidup akan selalu dan selamanya berputar di antara paradoks-paradoks. Kebaikan, keburukan, kesenangan, kesedihan, keceriaan, kepedihan, terang dan gelap. Selamanya tidak akan pernah sepi dari paradoks-paradoks tersebut.

Suhada, orang asing yang pada ahirnya justru menjadi matahari bagi pulau Gilli, sedari kecil hanyalah seorang yang selalu mengenyam pekat dan kelam. Tiada matahari yang menyingsingkan cahaya bagi dunianya. Saat lahir, dia ditinggalkan oleh ibunya di PUSKESMAS, dibiarkan dan ditelantarkan begitu saja. Seorang yang setelah lahir tak merasakan kasih sayang orangtuanya, bahkan tidak mengetahui siapa orangtuanya. Benar-benar hitam dan pekat sejarah awal hidupnya.

Dalam perjalanannya, Suhada mendapatkan sebuah matahari yang menerangi jalannya. Ia diasuh seorang Mamak yang selama beberapa masa dia anggap sebagai ibunya—dengan ketidaktahuannya. Meskipun bukan ibunya, Mamak benar-benar menjelma matahari dalam kehidupan Suhada. Dia menganggap Suhada adalah anak dan darah dagingnya sendiri. Dia mencoba—sekuat tenaga—membesarkan dan mengasuh Suhada sedapat mungkin. Memberikan yang terbaik baginya dengan segala kekurangan yang dimiliki.

Masa kelam kembali meliputi Suhada setelah dia diadopsi seorang keluarga dan dibawa ke Bogor. Dia harus menjalani kehidupan sebagai servant, meskipun untuk itu dia mendapat kompensasi “disekolahkan.” Pada masa-masa tersebut, walaupun dia seorang manusia, dia merasa bahwa kebebasan yang dimiliki telah tertawan. Dia merasakan sesaknya kelam yang menghantui kehidupannya. Berpindah-pindah dari satu majikan ke majikan lain, dia jalani dengan harapan mendapatkan sebuah keluarga yang mampu menjadi matahari kehidupannya. Dalam deretan perjalanannya, ahirnyaa dia benar-benar menemukan keluarga yang menjadi matahari baginya. Di sebuah kota kecil yang menjadi perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, Suhada menemukan keluarga yang dengan tulus ikhlas menyekolahkannya di SMA Islam terbaik di kota tersebut. Keluarga yang dengan tulus menjadi pengampu Suhada adalah keluarga Elang Noormas, salah satu staf Keraton Kesepuhan. Di kota itulah dia berhasil lulus SMA dengan predikat terbaik.

Kebahagiaan Suhada menjadi lengkap setelah dia bertemu dengan seorang yang memunyai nama Suamar. Entah mengapa dia merasa bahwa Suamar adalah matahari ketiga baginya setelah Mamak dan Elang Noormas. Dia merasa bangga dan bahagia dengan pinangan Suamar, lelaki perantauan dari pulau Gilli.

Baru setelah mereka berdua menjalai hubungan dan tinggal di pulau kecil itu, matahari kehidpannya berputar antara redup dan terang. Dia berusaha mendobrak realita adat dan kebiasaan masyarakat Gilli dengan logika serta perasaan sosial kemasyarakatannya. Dan sikap serta gairah kepedulian masyarakat itulah yang justru menjadi warna-warni kehidupannya antara fajar dan senja yang silih berganti tiada henti. Akan tetapi, bagaimanapun besarnya rintangan di depannya, ia tetaplah matahari, selalu muncul kembali setelah kegelapan itu menyelimuti beberapa masa.

Penentangan-penentangan masyarakat Gilli yang seolah-olah memojokkannya dan menolak kehadirannya, lebih-lebih keterlibatannya dalam berbagai bidang yang dianggap telah menyalahi hukum-hukum masyarakat Gilli, pada ahirnya lunak dengan sebuah akulturasi dan adaptasi budayanya. Pendekatan sosial yang sangat indah kepada masyarakat yang masih selalu mengisolasi diri dari hal-hal baru dan asing, telah menghasilkan kepercayaan masyarakat tersebut kepadanya. Dan ahirnya terjadilah perubahan tersebut. Perubahan yang mengantarkan pulau kecil itu menjadi pulau yang bisa berkembang dari sisi pendidikan, kemasarakatan dan hubungan sosial.

Untuk itu, layaklah bagi Suhada digambarkan sebagai sebuah matahari yang selalu menyinari pulau Gilli walaupun dia telah mati. Sebuah matafor sederhana yang sanggup mengaktualisasikan nilai-nilai sastra dalam sebuah karya sastra, lebih-lebih novel, yang kebanyakan diceritakan secara deskriptif tanpa metafor-metafor puitis. Dan novel ini ternyata mampu menghadirkan novel itu—novel dengan metaphor-metafor puitis.

Kepuitisan novel ini bisa dimengerti dengan gambling karena memang penulisnya aktif dalam dunia perpuisian.

Iklan
Posted in: Me and Books