Pencuri

Posted on Maret 11, 2009

0


“Maling, maling!”

Laki-laki paruh baya itu berteriak-teriak tak karuan. Urat-urat lehernya mengembang, seolah darah yang mengalir melewatinya membludak, membanjir. Oleh karenanya, urat-urat tersebut harus membesar, menyesuaikan luapan aliran darah yang tumpah akibat naiknya emosi di dalam dirinya. Dia mengacung-acungkan tangan kanannya kepada seorang perempuan yang sedang berjalan menjauhinya. Perempuan yang memakai pakaian serba hitam. Rok hitam, baju hitam, kerudung hitam, tas hitam, serta sepatu dan kaus kaki juga hitam.

“Maling, maling!”

Tak seberapa lama orang-orang ramai. Mereka berdatangan mengerumuni laki-laki yang masih saja berteriak “maling, maling” sambil mengacungkan tangan kanannya ke arah perempuan sebaya yang berjalan menjauh dan membelakanginya. Keributan mulai terdengar di kerumunan itu. Orang-orang panik sambil sesekali memelototkan kedua mata mereka ke arah yang ditunjuk laki-laki yang tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Mata mereka tak menangkap apa pun kecuali orang-orang yang sibuk dengan kebutuhannya sendiri-sendiri di sepanjang jalan yang ditunjuknya sampai penghujung jalan yang berkelok.

Mereka kebingungan. Maling? Tanya mereka sendiri dalam hatinya masing-masing. Mana ada maling? Tidak ada seorang pun yang lari di antara kerumunan orang di ujung jalan itu. Kalau memang ada maling, mestinya dia lari terbirit-birit mendapatkan teriakan korbannya. Tapi, tidak ada gelagat seperti itu sama sekali. Semua berjalan seperti biasa, tak ada yang aneh. Masing-masing sibuk dengan keperluannya sendiri-sendiri.

Laki-laki itu merasa darah yang memuncrat dari bagian dadanya bak pancoran, persis air mancur yang tak henti-henti mengucurkan air. Dada itu mengucurkan darah yang berwarna merah. Anehnya, warnanya merah jambu, bukan merah hati ataupun merah-merah yang lainnya. Darah terus mengucur melumuri tubuhnya yang telah tergeletak, kemudian membentuk seperti peta entah pulau entah benua apa. Tak jelas lukisannya. Yang jelas, laki-laki itu kini berada di genangan lukisan pulau merah jambu yang semakin meluas. Memosisikan tubuhnya di sentral genangan merah. Tubuhnya tergeletak, tapi tangannya masih mengacung-acung, menunjuk ke arah perempuan yang sedari tadi berjalan menjauhinya.

“Maling, maling!”

Ucapan itu masih saja menggaung dari mulut laki-laki yang telah dikerumuni banyak orang. Meskipun kini semakin terdengar parau dan lemah. Matanya melotot, mulutnya melongo, pikirannya kosong sambil terus menatap langkah perempuan yang terus berjalan menjauhinya seolah tanpa dosa dan kesalahan. Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa yang merasa simpati dengan laki-laki itu, yang berada di sekitar kejadian, tanpa dikomando membentuk seperti sebuah lingkaran. Mereka mengerumuni laki-laki yang merasa terluka parah pada bagian dadanya itu.

Meskipun dia terluka parah, orang-orang yang berketumun itu tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Mereka mengerumuninya karena dorongan keingintahuan mereka tentang apa yang telah terjadi padanya.

“Ada apa, ada apa?”

Tanya orang-orang, mereka memandanginya penuh simpati.

“Mengapa, apa yang telah terjadi?”

Tambah mereka.

“Maling! Mana malingnya, lari ke mana dia nak?”

Tanya seorang laki-laki yang umurnya kira-kira tiga puluhan tahun.

“Apa yang telah dicuri darimu?”

“Ke manakah larinya pencuri itu?”

“Dompetmu?”

“Berapa banyak uangmu yang dicuri?”

“Tak tersisakah sepeser pun untuk kamu buat ongkos pulang?”

“Bagaimanakah ciri-ciri pencurinya?”

“Dia laki-laki atau perempuan?”

“Mana orangnya, cepat tunjukkan pada kami!”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut segera menghujamnya, seperti hujan deras yang mengguyur seseorang di tengah lapang. Seperti dedaunan menutupi selapang tanah di musim gugur. Laki-laki itu segera menjadi pusat perhatian dan tontonan banyak orang. Mereka mendekatinya, mencari tahu apa yang sebenarnya telah menimpa dirinya.

Dia hanya berteriak “maling-maling” dan mengacungkan jarinya ke arah yang sedari tadi ditunjuk. Perempuan serba hitam itu pun telah hilang dari pandangan karena tertutupi kerumunan orang-orang yang mengitarinya. Meskipun begitu, dia seolah tak peduli akan semua di sekelilingnya, terus saja melakukan teriakan sama disertai acungan jari ke arah yang masih sama.

“Hei, mana pencurinya? Apa yang telah dia curi darimu?”

Seorang laki-laki kekar, besar, dan tinggi tiba-tiba memegang tangannya sambil menatap mata lelaki yang tergeletak itu. Sejenak, lelaki itu memandang orang yang memegang tangannya dengan tatapan kosong, karena pikiran dan perhatiannya masih saja terpusat pada seorang pencuri wanita yang memakai pakaian serba hitam.

Dengan gerakan yang amat pelan, dia mengacungkan telunjuknya ke arah wanita yang berjalan menjauh, menuju ke penghujung jalan yang berkelok.

“Dia, dia pencurinya. Dia yang memakai pakaian serba hitam itu. Ya, yang sedang berjalan menuju penghujung jalan itu.”

“Ha, apa? Wanita itu! Tidak mungkin, tidak mungkin dia mencuri, aku sangat mengenali siapa dirinya.” Seorang ibu-ibu terkaget mendengar tuturan laki-laki itu. “Hei anak muda, kalau ngomong yang benar, jangan asal tuduh saja. Dia orang baik-baik. Ramah, santun, menghormati orang lain, dan selalu jujur. Tidak mungkin orang seperti dia mencuri barang orang lain.”

Beberapa orang yang telah mengenalnya menguatkan perkataan sang ibu. “Ya benar, dia orang baik-baik. Kami sangat mengenalinya cukup lama. Mustahil dia melakukannya.”

Laki-laki itu berkata lagi, “Dia, dia pencuri, dia pencuri, dia pencuri.” sembari mengacungkan telunjuk ke arahnya.

Orang-orang yang belum begitu mengenal wanita itu mengatakan, “bisa saja dia mencuri, lha wong jaman sekarang ini siapa yang tahu. Banyak orang yang kelihatannya baik akan tetapi mereka adalah orang busuk dan jahat. Mungkin di depan kita saja gayanya sok baik, akan tetapi di belakang kita siapa yang tahu.”

“Ya benar, jangankan orang yang berjilbab seperti dia, orang yang ngakunya ingin mengabdi kepada kita saja justru memakan harta benda dan hak-hak kita. Bualannya saja ingin memperjuangkan nasib kita, tapi nyatanya setelah memimpin, memoroti apa yang seharusnya menjadi milik kita. Bukankah seperti itu keadaan di negeri kita?” Salah seorang yang ada di antara kerumunan itu membenarkan ucapan sebelumnya. Dia adalah orang yang tidak mudah memercayai orang lain hanya lewat penampilan dan tindakan seseorang. Karena, menurutnya, penampilan seringkali digunakan untuk menutupi kebusukan.

“Dia pencuri, dia pencuri, dia pencuri.” Pemuda itu kembali berkata dan menunjuk ke arah wanita tadi.

“Hai anak muda, memangnya apa yang dia curi darimu?” Seseorang meminta kejelasan apa yang telah diambil wanita itu darinya.

Pemuda itu hanya berkata, “Dia pencuri, dia pencuri, dia pencuri.”

“Sudahlah, kita seret saja dia, kalau perlu kita hajar rame-rame di sini. Biar dia tahu. Penampilannya saja sok baik, tapi hatinya busuk.”

“Ayo kita seret dia kemari, kita beri dia pelajaran. Agar tahu akibat tindakannya itu.” Orang-orang yang mulai merasa geram ingin segera mengambil tindakan menurut kehendak mereka sendiri.

“Jangan!” Pemuda itu melarang mereka. “Biarkanlah wanita itu pergi.”

“Biarkan saja dia pergi.”

“Mengapa?” Mereka bertanya keheranan. “Apakah barang yang dicurinya tidak berharga? Atau apakah kau mengikhlaskannya? Hai anak muda, meski kamu mengikhlaskannya, kita akan tetap memberinya pelajaran agar tidak mengulangi perbuatannya kembali.”

“Tidak, biarkan saja dia pergi. Kalian tidak berhak menghukuminya.” Pemuda itu bersikeras melarang mereka.

“Tidak bisa, pokoknya kita harus memberinya pelajaran.”

“Kubilang jangan! Memang dia telah mencuri hal yang sangat berharga bagiku, dan itu tidak bisa diganti sama sekali.”

“Lalu, mengapa kau hendak membiarkannya pergi? Pokoknya kita adili dia sekarang juga, setuju?” seeeru salah satu dari mereka kepada rekan-rekannya.

“Setuju” mereka serempak tetap ingin menghukumi wanita itu.

“Jangan, aku bilang jangan. Karena dia telah mencuri hati dan perasaanku.”

Cairo, 1 Desember 2008

Posted in: cerpen