Peradaban Kita (Metodologi Memahami dan Memajukannya)

Posted on April 5, 2009

0


Judul : Risâlah Fî ath-Tharîq Ilâ Tsaqâfatinâ
Penulis : Abu Fahr Mahmud Muhammad Syakir
Penerbit : Maktabah Al-Khanji, Cairo
Cetakan : Kedua, 2006 M/ 1427 H

Perjalanan kehidupan peradaban arab serasa mengalami kematian dan kesusahan untuk bangkit kembali menuju puncak kejayaannya sampai sekarang. Hal inilah yang kiranya menjadi titik poin pembahasan Mahmud Muhammad Syakir dalam buku ini. Penulis mencoba membidik sisi sejarah yang melatarbelakangi kematian dan atau—lebih halusnya—kestagnanan perkembangan peradaban arab hingga kini.
Kelesuan itu tentunya memiliki sebab-sebab sejarah yang secara langsung maupun tidak, memengaruhi ideologi dan tata cara berpikir masyarakat yang pada perjalanannya mengaktualisasikan diri dalam kehidupan peradaban arab itu sendiri. Aktualisasi yang muncul bukanlah aktualisasi positif yang memajukan peradaban dan sastra arab, melainkan kerusakan kehidupan peradaban dan kesusastraan arab.
Dengan adanya kerusakan kehidupan kesusastraan arab itulah, penulis, dalam beberapa masa, sekitar enam belas sampai tujuh belas tahun, melakukan tapabrata mencoba menekuri dan memahami berbagai karangan sastra serta mendalaminya guna melacak sumber-sumber kerusakan kesusastraan yang ada. Dalam masa penekurannya tersebut, penulis pada ahirnya menyadari adanya kesalahan metodologi yang melatarbelakangi keterbelakangan perjalanan kesusastraan arab.
Mulai dari sanalah Muhammad Syakir mengetahui di mana kesalahan yang secara diam-diam mengantarkan kesusastraan arab kepada kemandegan yang hingga saat ini pun belum mampu bangkit.
Di dalam buku yang sebenarnya merupakan muqaddimah dari buku Al-Mutanabbi, yang juga karangannya sendiri ini, secara detail dan gamblang Abu Fahr (penulis) memaparkan perbedaan metodologinya sendiri dengan metodologi kesusastraan yang berkembang. Meskipun penulis kurang begitu setuju dengan penggunaan kata (manhaj) atau metodologi, yang menurutnya kalimat itu masih perlu penjelasan lebih jauh dan lebih dalam lagi. Akan tetapi, karena kalimat itu telah menjadi konsumsi masyarakat luas, maka dia berusaha menjelaskannya.
Baginya, manhaj atau metodologi adalah dasar yang menjadi pondasi bagi metodologi itu sendiri, atau dalam bahasa penulis disebut sebagai mâ qabla al-manhaj (pra metodologi). Dan pra metodologi terbagi ke dalam dua bagian; maddah dan tathbiq (pengumpulan bahan dan penerapan). Keduanya saling melengkapi satu sama lain.
Dalam mempelajari peradaban mana pun yang ada di dunia ini, tak terkecuali peradaban Yunani dan Romawi kuno, kedua hal ini menjadi barometer yang tidak bisa digantikan posisinya oleh apa pun karena kedua hal inilah yang merupakan penjelmaan dari peradaban itu sendiri. Dan alat untuk mengetahui keduanya tidak lain hanyalah bahasa yang memegang peranan terpenting dalam berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal.
Menurut Muhammad Syakir, hal yang paling penting diperhatikan dalam mempelajari suatu peradaban adalah pemahaman terhadap bahasa peradaban yang telah mendarah daging dengan peradaban terkait dengan sebenar-benarnya pemahaman. Hal ini menuntut peneliti untuk setidaknya mengetahui struktur bahasa peradaban itu, selain juga menuntut kepiawaian dan kemahiran dalam memahami pelbagai disiplin ilmu terkait dengan kehidupan kehidupan peradaban yang bersangkutan. Tanpa menguasai bahasa yang bersangkutan dan tidak ataupun kurang memahami berbagai ilmu yang memunyai kaitan erat dengan kehidupan peradaban itu, maka seseorang belum dan tidak bisa dikatakan layak membicarakan suatu peradaban dengan kelayakan ilmiah yang semestinya. Orang yang membicarakan sebuah peradaban—maksud saya dalam hal ini adalah menilai dan menjustifikasi–tanpa didasari pemahaman dan penguasaan bahasa dan pengetahuan terkait, dia bukanlah pembahas, tetapi hanyalah pembicara baik dia peham maupun tidak.
Hal lain yang perlu diperhatikan bagi seseorang adalah peradaban itu sendiri yang pada dasarnya merupakan kumpulan dari pelbagai pengetahuan yang tak terhitung banyaknya. Dengan peradaban yang agung dan luhurlah, sejarah akan mencatat dan mengabadikan sebuah kaum atau komunitas masyarakat tertentu. Selain itu, peradaban luhurlah yang menjadi acuan dan barometer kemajuan dan kejayaan sebuah perkumpulan baik dalam lingkup regional maupun dalam skala yang lebih besar.
Hal ketiga yang menjadi acuan penilain kemurnian studi, dalam artian terbebas dari segala isme-isme yang menjadikan penelitian tidak objektif. Dengan kata lain, hanya bertujuan untuk memahami peradaban yang ada bukan menjatuhkan atau memperolok peradaban yang dipelajari. Ketiga hal inilah yang menjadi tolok ukur bagi seseorang yang akan mempelajari sebuah peradaban, sehingga asumsi yang dihasilkan bisa dipertanggungjawabkan kepada khalayak dan memenuhi standar tulisan ilmiah. Bukan sekadar informasi yang menjustifikasi tanpa bisa dipertanggungjawabkan.
Menginjak mengenai peradaban kita,—peradaban Islam—perlu diketahui bahwa peradaban kita memiliki nilai lebih dibandingkan dengan peradaban lain karena berasaskan pada nilai-nilai etika religius. Nilai etika religius itulah yang menjadikan keluhuran peradaban kita–Islam. Semakin kita berpegang teguh kepada nilai-nilai religi yang kita yakini, maka peradaban kita akan semakin maju dann kokoh. Tidak seperti peradaban barat yang semakin maju karena meninggalkan nilai-nilai agama mereka.
Keluhuran dan kemajuan peradaban yang kita raih kala itu, menarik pandangan barat yang saat itu masih berada kegelapan abad pertengahan untuk mempelajari dan menguasai peradaban timur. Kedengkian terhadap apa yang telah diraih peradaban Islam itulah yang melatarbelakangi timbulnya perang salib yang berkepanjangan. Perang besar-besaran antara tentara Islam dan kaum salib, yang pada ahirnya pasukan salib mengakui—meskipun tidak secara terang-terangan—akan kekalahannya. Dan menurut mereka, jika perang itu diteruskan, maka kaum nasrani dapat dipastikan akan mengenyam buah pahitnya karena kemenangan telah berada di depan mata kaum muslimin di bawah pasukan Shalahuddin al-Ayyubi yang berhasil mengembalikan al-Quds di palestina ke pangkuan kaum muslimin.
Pada ahirnya, mereka—kaum salib—memeras otak mereka, mencoba mencari alternatif lain menghancurkan Islam. Singkatnya, peperangan sama sekali bukanlah alat yang dapat menghancurkan Islam. Satu-satunya cara yang dapat menghancurkan, melebur dan meluluhlantakkan Islam adalah dengan pengosongan peradaban (tafrîgh tsaqâfî) secara berkala dan berkesinambungan hingga ahirnya Islam hanya menjadi sebuah nama yang nilai-nilainya tidak dijalankan pengikutnya sendiri.
Dalam rangka mengosongkan peradaban Islam, mereka—melalui penjajahan dan kolonialisme—mencoba mengirim beberapa utusan untuk mengenyam pendidikan di negara-negara mereka dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dalam masa pembelajaran tersebut, mereka dikenalkan pada peradaban yang sangat berbeda dengan peradaban negerinya sendiri selain juga diajarkan metodologi mereka dalam mempelajari peradaban mereka yang secara esensi sudah sangat berbeda dengan peradaban asli para utusan itu. Setelah selesai—antara satu sampai tiga tahun—mereka kemudian dikembalikan ke negara asalnya guna menyuarakan peradaban baru yang mereka peroleh dan menerapkan pola metodologi yang mereka peroleh pada peradaban negerinya, yang sudah saya katakan sangat berbeda dengan peradaban yang ada di negerinya.
Ahirnya dengan apa yang mereka—orang-orang barat—katakan dengan budaya internasional, mereka sedikit demi sedikit merongrong dan mengosongkan peradaban Islam dari esensi pokoknya dan mengantarkan kepada kefuturan, kemandegan yang kemudian menimbulkan kerusakan kehidupan peradaban Islam.
Dari sanalah akar kemunculan kerusakan peradaban kita tumbuh. Peradaban yang seharusnya tumbuh dan berkembang dalam pangkuan dan susuan metodologi yang kita miliki disusui dan dipelihara oleh tangan-tangan asing dengan metode yang dipakai untuk mengemong peradaban mereka. Dan jadilah peradaban kita kehilangan susu keasliannya yang melahiurkannya dan tumbuh di bawah asuhan peradaban lain yang terputus.
Itulah yang kiranya ingin disampaikan penulis dalam buku ini. Dengan bahasa yang indah dan runtut penulis menjelaskan secara gamblang dengan bahasa percakapan harian dan dibubuhi beberapa metafor sastra yang menunjukkan kepiawaiannya dalam bidang kebahasaan dan kesusastraan.

Posted in: Me and Books