Referensi Tafsir Tematik

Posted on April 5, 2009

3


Judul : Mashâdir al-Tafsir al-Maudlu’i
Penulis : Dr. Ahmad Rahmani
Penerbit : Maktabah Wahbah
Cetakan : Pertama, 1998 M/ 1419 H
Hal pertama yang melintas dalam pikiran saya ketika membaca judul buku ini, Mashâdir al-Tafsîr al-Maudlû’i,–yang dalam terjemahan saya; sumber-sumber tafsir tematik–adalah gambaran umum tentang sumber-sumber tafsir tematik. Misalkan, al—Quran, al-Hadis, tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ra’yi dan lain sebagainya yang menjadi sandaran tafsir tematik. Seperti ketika membaca judul buku misalnya, sumber-sumber hukum islam. Maka yang terlintas secara langsung adalah al-Quran, al-Hadis, Ijma’, Qiyas, dan yang lainnya.
Akan tetapi, setelah menelusuri jauh lebih dalam tentang isi buku yang tebalnya hanya sekitar delapan puluhan halaman ini, sama sekali tidak saya dapatkan maklumat yang langsung menjelaskan beberapa sumber tafsir tematik. Mengapa? Karena,–yang saya dapatkan–ternyata buku ini justru mengajak berjalan-jalan menelusuri metodologi penulisan beberapa karangan tafsir tematik. Pembahasan mashâdir di sini ternyata dimaksudkan untuk menunjuk beberapa referensi tafsir tematik. Bukan diartikan sebagai sumber pengambilan atau sumber penulisan tafsir tematik.
Dr. Ahmad Rahmani, penulis buku, membahas delapan macam karangan tafsir tematik. Alas an mengapa penulis hanya membahas delapan contoh karangan, karena beliau ingin menekankan segi kesatuan tema dalam al-Quran yang disuguhkan kedelapan penulis tersebut.
Delapan karangan yang dibahas penulis dalam buku ini adalah Nudzum al-Durar Fî Tanâsub al-Âyât wa al-Suwar karangan Burhânuddin al-Baqâ’î, al-‘Arab fî al-Quran karya ‘Abd al-Hamîd bin Bâdîs, al-Bidâyah Fî al-Tafsîr al-Maudlu’î karangan ‘Abd al-Hayyi al-Farmâwî, Muqaddimât Fî al-Tafsîr al-Maudlû’i milik Bâqir al-Shadr, Madkhal Ilâ al-Tafsîr al-Maudlû’i karangan ‘Abd al-Satâr Fathullah Sa’id, Mabâhits Fî al-Tafsîr al-Maudlû’i karangan Mustafa Muslim, al-Tafsîr al-Maudlû’i karangan Hikmat ‘Ali Husain al-Khafâjî, dan yang terahir adalah al-Asâs Fî al-Tafsîr karangan Sa’id Hawa.
Penulis, dalam pembahasannya mengenai delapan buku yang diteliti, menganalisanya dengan cara memaparkan karangan kemudian menganalisanya dan terahir menilai serta mengritik karangan tersebut sesuai dengan tujuan penulisan buku ini, yaitu memberikan sebuah referensi pokok mengenai tafsir tematik.
Pembahasan dalam buku ini pun tidak menyeluruh, melainkan beberapa saja karena tujuan penulisan buku ini bukan untuk meneliti secara keseluruhan akan referensi tafsir tematik. Akan tetapi sekadar memberi gambaran gamblang mengenai meode penafsiran baru yang lahir sekitar tahun delapan puluhan, metode tafsir tematik.
Yang dimaksud dengan tafsir tematik itu sendiri adalah metode baru dalam studi al-Quran dengan menyelidiki dan mendalami berbagai macam tema seperti sosial, etika, lingkungan, dan sebagainya baik dari penafsiran surat di dalam al-Quran sebagai sebuah satu kesatuan yang membicarakan satu tema maupun dari penafsiran beberapa ayat yang membentuk satu tema tersendiri dengan tujuan memberi solusi yang tepat tentang tema tersebut atau menghasilkan sebuah teori ilmiah mengenai tema yang dibahas.
Di dalam tafsir tematik, al-munasabah baina al-ayat maupun al-munasabah baina al-suwar memiliki peran yang cukup penting. Mengapa? Karena dengan mengetahui hubungan antara satu ayat dengan ayat lain, antara ayat dengan surat, maupun satu surat dengan surat lain, akan tampaklah tema besar yang diusung di dalam beberapa ayat maupun surat tersebut. Dan di bawah teori Munasabah inilah al-Baqâ’î menuliskan tafsirnya. Dia menaruh perhatian cukup serius terhadap hubungan antara satu ayat dengan ayat sebelum maupun sesudahnya. Begitu pula dengan surat yang menjadi pembahasan tafsirnya. Selain juga hubungan antara ahir sebuah surat dengan awal surat berikutnya.
Ibnu Bâdis menyandarkan metode penafsirannya pada dua hal; kuantitas pengetahuan dan kebenaran pengaturan. Dan pengetahuan yang didapat dari berpikir dia bagi menjadi empat; ‘ilm, dzan, wahm, dan syak. Dari keempat macam pengetahuan itu, hanya ilm-lah yang laik dikatakan pengetahuan. Dijelaskan pula bahwa Ibnu Bâdis juga menggunakan metode orang-orang berilmu matang (al-râsihûn fî al-‘ilm) sebagaimana kaum salaf. Dan itu bukan berarti meniadakan fungsi akal, melainkan menempatkan akal pada tempatnya. Karena tidak semua ayat al-Quran dapat dipahami dengan akal manusia secara umum.
Sedangkan Farmawi membagi bukunya menjadi dua bagian. (1) Teoretis, yang mencakup penjelasan metode tafsir secara umum, kemudian pengertian tafsir tematik, metode, kemunculan, dan kedudukannya dari metode tafsir lain dan sebagainya. (2) Praktis, yang membahas empat tema; menyantuni anak yatim dalam al-Quran, buta huruf masyarakat arab dalam al-Quran, adab minta ijin di dalam al-Quran, dan menundukkan pandangan serta menjaga kemaluan dalam al-Quran.
Beralih ke al-Khafâjî, karangannya yang dibahas dalam buku ini sebenarnya merupakan disertasi untuk mendapatkan gelar magister di fakultas Ushuluddin universitas bagdad pada tahun 1992 M. metode yang digunakannya adalah perpaduan antara metode historis dan metode penelitian analitis. Penulis, banyak mengkritik tesis ini baik dari segi isi maupun segi bahasanya.
Dan menuju ke Mustafa Muslim, dia membagi metodenya ke dalam dua bagian. Pertama, metode pembahasan tafsir tematik dari al-Quran secara keseluruhan. Kaidah utama dalam metode ini adalah memilih judul tema, mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tema, menyusun ayat tersebut sesuai urutan turunnya, menafsiri ayat dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir, mengambil unsur pokok tema, kembali pada penafsiran umum dengan menunjukkan hidayah al-Quran dalam tema tersebut. Kedua, metode pembahasan tafsir tematik dalam satu surat. Kaidah utamanya adalah mengetahui sebab turunnya ayat, mengenali tujuan pokok surat, membagi surat ke beberapa bagian, menghubungkan bagian-bagian tersebut satu sama lain serta menghubungkannya dengan tujuan pokok surat.
Kesatuan tema dalam sebuah surat menjadi fokus pembahasan tafsirnya Said Hawa. Said Hawa sendiri mengutarakan bahwa tujuan utama tafsirnya adalah mengajukan teori baru mengenai kesatuan tema al-Quran. Hanya saja kritik yang dilontarkan atas tafsirnya adalah kurangnya referensi. Meskipun begitu, hal itu dapat dimaklumi karena beliau menuliskan tafsirnya ketika berada dalam penjara. Tafsir ini menempatkan akidah pada posisi prioritas utama. Selain itu, keistimewaan yang terdapat pada tafsir ini adalah kecenderungan terhadap dakwah haraki yang tersirat dalam dua hal; penjelasan minhaj jamaah kaum muslimin dan penjelasan bahwa al-Quran merupakan kitab dakwah dan tarbiah.
Secara umum, buku kecil ini sudah cukup memberi gambaran mengenai beberapa referensi tafsir tematik yang mulai berkembang di masa-masa ahir. Alih-alih dari metode penafsiran lain yang berkembang di masa awal-awal perkembangan tafsir. Wallahu a’lam.

Posted in: Me and Books