“Larasati”, Harga Revolusi dan Lambang Ideologi Penulis

Posted on Juli 30, 2009

0


“Kolonialis, alias penjajahan hanya bisa terjadi pada bangsa yang tidak memiliki keberanian untuk melawan, menentang dan menghadapi”.

Kira-kira seperti itulah makna jargon yang dituturkan sang penulis. Jargon yang sangat berani sekali dalam kancah perpolitikan. Dan tentu, dari jargon itu terlihat keberanian penulis yang luar biasa untuk melawan segala bentuk tindakan perbudakan, penjajahan, dan pengekangan kebebasan. Dan gambaran itulah yang ahirnya membentuk opini publik bahwa sastrawan ini—Pramoedya Ananta Tour—adalah penulis cerita yang mengusung ide sosialis dalam kesusastraan Indonesia.

Dalam semua bukunya—menurut para peneliti, karena saya baru membaca satu buku ini saja—Pram selalu mengusung ide realisme sosialisnya. Baginya, karya sastra yang indah bukanlah sekadar karya sastra yang semua unsur-unsurnya terpenuhi, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Akan tetapi, karya sastra yang indah, selain unsur-unsurnya terpenuhi, juga harus memiliki fungsi mengangkat kaum jelata, poletar, dan kaum-kaum yang termarginalkan. Jika hal itu terpenuhi, barulah sebuah karya sastra dinamakan karya yang bagus.

Dari situlah timbul perseteruan antara sastrawan yang berorientasi humanisme universal yang dipelopori oleh HB Jassin dan Wiratmo Soekito dan sastrawan yang berorientasi realisme sosialis dengan pelopor terdepannya Pramoedya. Kedua maintream ini yang kemudian mewujud dalam tubuh Manikebu (Manifes Kebudayaan) dan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Larasati, novel Pramoedya ini, melambangkan ideologi yang diusungnya. Sebuah perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial belanda pada masa itu. Pramoedya, dalam novel ini, membidik sisi perjuangan melawan kolonial dari angel seorang biduanita cantik di masa penjajahan yang bernama Larasati.

Meski hanya seorang biduanita, Larasati juga menghendaki kemerdekaan. Kemerdekaan yang memang menjadi hak setiap warga negara , kemerdekaan yang selalu menjadi keinginan setiap orang. Kemerdekaan yang memberi ruang kebebasan untuk bertindak selama tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Larasati tahu bahwa revolusi harganya mahal, tidak hanya harta benda. Tapi juga nyawa dirinya dan juga keluarganya. Akan tetapi, demi kemerdekaan revolusi itu harus diraih, harus direbut dari tangan-tangan pencuri yang semena-mena.

Toh Larasati kenal banyak dengan para kolonialis, hatinya sebenarnya sangat membenci mereka. Dia sangat jijik dengan perilaku mereka yang semena-mena menindas rakyat jelata dan kaum kecil. Dia mengenal mereka karena profesinya, biduanita cantik yeng selalu menghibur pembesar-pembesar kolonial.

Meskipun begitu, pada ahirnya dia bergabung bersama rakyat jelata melakukan gerilya, mengebom dan membunuh para kolonial secara diam-diam. Di gelapnya malam, tatkala kompi melintasi desa di mana dia tinggal bersama kaum gerilyawan lain.

Dia berada di barisan depan seolah seorang laki-laki meskipun sebenarnya dia sangat ketakutan melihat mayat-mayat bergelimpangan di depannya. Tapi, karena hanya itulah tumbal revolusi, maka dia tetap harus angkat senjata bersama gerilyawan tersebut, meraih kemerdekaan mereka yang dicuri.

Itulah harga revolusi yang harus dibayar seluruh rakyat untuk mengusir penjajah, tidak hanya harta benda, ribuan nyawa terpaksa meregang hanya untuk mendapat kemerdekaan.

Dan itulah Pram, dengan ideologi yang diusungnya dalam masa-masa kolonial. Dia terus melawan, lewat tulisan-tulisannya yang berani dan memihak kaum jelata. Meskipun buih dan pengasingan selalu meneror, dia tetap saja menulis dengan berani. Menulis dengan ideologi yang selalu melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan.

Bukan Pram namanya kalau tidak melawan, bukan Pram namanya kalau diam saja melihat kolonialisasi merajalela. Meski di dalam buih, perlawanan tersiratnya melalui tulisan terus dia lakukan tanpa henti. Tanpa dibatasi jeruji-jeruji yang berderet sombong mengurung tubuhnya.

Inilah Larasati, inilah Ideologi Pramoedya Ananta Tour, sastrawan pulau Buru yang dimarginalkan oleh kekuasaan pemerintah karena tulisan-tulisannya yang dianggap mengusung ide-ide Partai Komunis Indonesia (PKI).

Posted in: Me and Books