Petikan pelajaran dari “The Alchemist”

Posted on Juli 30, 2009

0


Paulo Coelho, lewat bukunya Sang Alkemis, memberikan banyak sekali pelajaran keagamaan kepada para pembacanya. Bagiku, buku ini biasa-biasa saja, tidak ada yang menjadikannya “wah.” Hanya saja karena yang dikupasnya cenderung berbau religi, maka buku ini lebih cenderung menggelitik sisi rohani pembacanya.

Mungkin, buku ini menjadi bacaan banyak orang di dunia karena dia menggarapnya dari kacamata rohani, agamis. Bukan novel yang digarap dengan pendekatan budaya. Selain itu, yang menjadikan banyak pembaca yang tertarik adalah kandungan pelajarang yang disampaikan dalam novel itu. Tentunya pelajaran kerohanian. Kalau dalam literatur kita, Islam, mungkin sepadan dengan apa yang diajarkan kaum sufi.

Di antara petikan-petikan pelajaran yang dapat kita ambil dari novel ini antara lain:

Tuhan tak selamanya dapat ditemukan di seminari, akademi kependetaan bagi orang kristen. Itulah yang dirasakan Santiago, anak pengembala dalam novel ini. Dia memilih menjadi penggembala dari pada menjadi pastor seperti yang diinginkan orang tuanya. Karena baginya pengetahuan tentang dunia lebih penting daripada mengenal Tuhan dan dosa-dosa manusia.

Karena alasan itulah dia menjadi penggembala. Sebab, hanya menjadi penggembala yang mungkin dia lakukan agar dapat mengetahui sisi-sisi dunia. Melihat keadaan keluarganya yang miskin dan tidak punya apa-apa. Itu pelajaran pertama, tak selamanya seseorang menemukan Tuhannya di dalam tempat peribadatan.

Kedua, ikutilah isi hati. Inilah yang menjadikan Santiago melakukan perjalanan ke Tainger kemudian Mesir. Hanya ingin mengikuti kata hati yang selalu bermimpi menemukan harta karun di Piramida-piramida mesir. Itu jualah yang ahirnya menjadikannya menemukan berbagai pengalaman hidup yang tidak pernah dibayangkan sama sekali, bertemu dengan raja tua, bertemu wanita Gipsi tukang tafsir mimpi, ditipu dan diambil semua uangnya, bekerja di toko kristal, bertemu dengan Fatima, gadis gurun yang dicintainya, dan Alkemis yang menunjukkan padanya harta karun, mengajarinya tentang Jiwa Dunia, cinta, kesabaran, dan kegigihan.

Kata hati merupakan bahasa nonverbal yang dipahami seisi jadag raya. Walau tidak memiliki lafal, kalimat, dan paragraf, kata hati adalah bahasa yang dapat dipahami.

Ingatlah, kata hati tidak pernah bohong, tidak pernah berdusta, tidak pernah berkhianat. Mintalah petunjuk pada kata hatimu.

Ketiga,  bacalah tanda-tanda yang ada di sekitar kita. Karena tuhan menciptakan alam raya ini sebagai tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk. Oleh karenanya, bacalah dengan saksama tanda-tanda yang ada di alam ini. Orang yang tidak dapat membaca tanda-tanda itu adalah orang yang hatinya telah mati. Ingatlah bahwa tanda-tanda itu akan menunjukkan kapada tujuan kita.

Keempat, gigihlah dalam mengejar mimpi dan tujuan karena orang yang bersungguh-sungguh mengejar mimpi dan tujuannya, seluruh jagad raya seisinya akan bahu-membahu membantunya menemukan mimpi dan tujuan tersebut. Makanya, jangan mudah menyerah dalam menggapai mimpi. Jika ada keinginan kuat pasti akan ada jalan yang bisa dilalui.

Kelima, jarang sekali orang yang mau menjalani penyepuhan logam menjadi emas, mereka lebih memilih mendapatkan emas itu tanpa harus menyepuhnya. Itulah yang sering dilakukan manusia sehungga mereka tidak bisa menyepuh hatinya menjadi bening. Padahal, proses penyepuhan itulah yang sebenanrnya sangat bermanfaat bagi manusia. Bukan hasil emasnya.

Keenam, ketahuilah bahwa waktu tergelap di malam hari berada pada saat-saat menjelang fajar. Artinya, kemenangan itu berada di puncak-puncak penderitaan. Keberhasilah seorang pemula adalah dorongan agar dia semangat, sedangkan penderitaan pemenang adalah gerbang menuju kemenangannya.

Thats few lessons I could take from The Alchemist. We may can find more lesson on this book. But for the moment, that all I have found  after reading it.

Posted in: Me and Books