Risalah implisit “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”

Posted on Agustus 19, 2009

0


Hanya sederhana. Itulah hidup ini sebenarnya. Tidak ada yang namanya pelik, rumit,  serta sulit dalam menghadapi kehidupan ini. Semuanya serba sederhana, sesederhana kita menguraikan sebuah tali simpul. Tidak sesulit menguraikan benang tersimpul.

Berbagai masalah apa pun, dalam hidup ini, sebenarnya tidak berporos pada kesederhanaan. Tinggal cara pandang kita saja yang mesti diubah. Bukan menuruti cara pandang ego yang ada dalam diri dan jiwa kita. Dengan merubah cara pandang kita, segalanya akan berubah menjadi simpel, bahkan sangat simpel. Tidak perlu disesali, dipertanyakan, dan bahkan digugat. Apalagi sampai menggugat Tuhan.

Itulah inti yang ingin dikemukakan penulis dalam novel “Rembulan Tenggelam di Wajahmu.” Kesederhanaan hidup dengan segala problematikan dan polemik yang senantiasa menghiasinya. Tentunya kesederhanaan yang didasarkan atas kacamata agama dan keyakinan. Kesederhanaan yang lebih mengedepankan sisi ukhrowi dari sisi duniawi serta materi.

Menarik sekali cara eksplorasi Tere-liye, penulis, dalam buku ini. Dia mengangkat genre yang menurut saya adalah genre “Sosialis marginal.” Masyarakat yang seolah-olah dianaktirikan oleh hidup dan kehidupan. Penulis menjelaskan sudut kaum termarginalkan tersebut, dalam novel ini adalah Ray, terhadap problematika hidup yang melingkupi dirinya. Kesusahan, penderitaan, penindasan, duka, lara dan pelbagai kepahitan hidup lain yang menemui mereka.

Permasalahan yang selalu muncul dan mengundang tuntutan dalam benak orang-orang kalah yang termarginalkan adalah, mengapa Tuhan menciptakan diriku dalam keadaan seperti ini? Tidak seperti mereka yang serba bahagia dan gembira. Dari sana akan muncul pertanyaan susulan berikutnya, apakah Tuhan adil?

Dari pertanyaan itu jelas sekali bahwa penulis memosisikan para tokoh disini sebagai orang yang percaya akan agama. Meskipun hanya KTPnya atau orang awam. Oleh karenanya, mereka mudah sekali menggugat Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seolah-olah Tuhan mereka tidak sayang dan senang padanya. Seakan-akan Tuhan mereka bertindak lalim dan tidak adil pada mereka.

Cara pandang seperti itulah yang menjadi poin kritik penulis terhadap fenomena masyarakat sosialis marginal tersebut. Cara pandang yang bersifat fertikal, tanpa mengaitkan permasalahan tersebut secara horisontal dengan hal-hal lain yang melingkupinya. Hanya cara pandang satu jalur. Padahal, seandainya dipandang dari jalur yang berbeda, tafsiran permasalahannya akan bertolak belakang seratus delapan puluh derajat atau sembilan puluh derajat.

Tetapi, lagi-lagi cara pandang itu telah membatu, mereka hanya thau bahwa semua permasalahan yang ada adalah bentuk kebencian, ketidakadilan alam raya kepada mereka. Oleh karena itu, mereka keras hati dan terus-menerus melakukan gugatan. Bahkan sampai keadaan mereka membaik, mereka tetap berlari mengejar keinginan-keinginan yang dulu hampir dirasa mustahil tanpa mengenal batas finish. Dan memang seperti itulah kehidupan dunia, selalu ingin menambah dan menambah tanpa henti.

Hingga pada ujungnya usia mereka semakin mendekati liang lahatnya, tapi ambisi itu belum juga padam, belum bisa berhenti. Merasa cukup dan bersyukur kepada Sang pencipta.

Dan metafora itu tepat sekali. Rembulan terbenam di wajahmu. Dan bahkan benar-benar tenggelam, sirna, dan luruh. Tidak tampak sama sekali. Hilang ditelan ambisi yang seakan selalu ingin membalas dendam.

Yang diinginkan penulis di sini adalah, menjalani takdir Tuhan dengan rida dan ikhlas karena semua kejadian, cobaan, dan ujian saling berkaitan dengan apa yang namanya hukum kausalitas. Hukum sebab akibat. Dan hukum itu terangkai dalam mata rantai yang kadang cukup panjang untuk dimengerti. Seperti rentetan kejadian dalam novel ini yang terkait antara satu dan lainnya sampai ahir.

Pesan sederhana menghadapi hidup dalam novel ini adalah; jika sedang terkena coba, uji, derita, maka pasrahkanlah itu semua kepada Sang pemilik alam raya, Dia pasti memiliki rencana-rencana besar di balik itu semua. Akan tetapi, jika sedang senang dan tamak akan kenikmatan, lihatlah orang-orang yang lebih rendah. Itulah yang akan membuat seseorang selalu bersyukur atas apa yang dilimpahkan Tuhan.

Posted in: Me and Books