Absurd Phenomenon on Maryamah Karpov

Posted on September 9, 2009

0


Secara garis besar, buku keempat tetralogi Laskar Pelangi ini, Maryamah Karpov, menceritakan petualangan si Ikal dalam mencari terkasihnya sejak SD, A Ling.

Banyak fenomena yang ditampilkan Andrea dalam buku ke-empatnya ini. Di antaranya, paradoks-paradoks sistem sosial kemasyarakatan yang dia temui di Eropa dan di Tanah Air. Paradoks tersebut berkisar antara keindahan serta keteraturan sistem di sana dengan kesemrawutan sistem yang masih ada di tanah air. Dia juga menggambarkan susahnya mendapat lapangan pekerjaan yang pas dan memadai sesuai bidangnya di Tanah Air, tergambar dari cerita kesulitan Ikal, setelah bergelar Master, memraktikkan ilmunya dalam masyaraktnya sendiri yang ahirnya mengantarkannya untuk bekerja apa saja. Tanpa memedulikan gelar Master yang telah disandangnya.

Saya tidak akan menyoroti fenomena-fenomena tersebut satu-persatu, saya hanya ingin mengupas sisi “absurd story” yang menghiasi novel tersebut. Mungkin memang benar apa yang dikatakan penerbit di halaman sampul dalam bagian belakang, ini adalah karya nonfiksi yang digarap secara fiktif denganpendekatan kultural. Karena memang Andrea, dalam  mengupas cerita, mendasarkannya pada pengalamannya terhadap ilmu pengetahuan. Itu ditunjukkannya dengan paparan konflik cerita yang selalu diahiri dengan solusi ilmiah serta setting dan latar cerita yang menggambarkan kehidupan masyarakat Belitong saat itu.

“Ending konflik” yang selalu diahiri dengan alasan ilmiah itulah yang menyebabkan—dalam pandangan saya—munculnya ke-absurd-an cerita Maryamah Karpov ini. Dalam istilah saya sendiri ini adalah “pemaksaan alasan ilmiah” sehingga membuat cerita seolah-olah adalah cerita jenaka yang menggelikan. Bagian inilah yang, dalam novel-novel budaya kultural, mengurangi keseriusan isi cerita sehingga cerita menjadi wagu dan terasa ganjil—menurut pikiran saya.

Sebagai contoh kasus dalam novel ini adalah cerita Mahar ketika berhadapan dengan Tuk Bayan Tula di pulau Batuan. Agar Tuk Bayan Tula mau mengijinkan mereka mencari A Ling, mahar telah menyiapkan pelbagai jampi-jampi perdukunan yang sangat mujarab, nomor wahid, dan sulit didapatkan. Akan tetapi, ketika jampi-jampi tersebut ditunjukkan kepada Tuk Bayan dan gerombolannya, ternyata sang Tuk telah memiliki jampi-jampi serupa yang bahkan lebih lama dan lebih mujarab.

Dalam suasana seperti ini, pembaca terbawa pada ruang penasaran yang begitu hebat. Mereka pasti bertanya-tanya, apa yang akan terjadi selanjutnya? Ketika berada dalam puncak penasaran yang begitu hebat ini, Andrea justru menyodorkan antiklimaks yang justru bersifat humoris dan jenaka. Ternyata, dalam cerita ini, Mahar masih punya satu senjata penakluk Tuk Bayan Tula. Dan senjata itu, ternyata hanya sebuah mini TV yang tidak bisa mendapatkan gelombang channel, hanya gambar semut-semut bergeming yang dapat muncul di TV itu. Absurd sekali bukan?

Dan lebih absurd lagi ternyata sang dukun, Tuk Bayan, terpesona dan terkagum-kagum pada barang ini dan mengijinkan mereka mencari tujuannya di pulau Batuan itu.

Masih ada fenomena absurd lain dalam cerita ini, seperti budaya taruhan yang biasa dilakukan orang-orang Belitong. Mungkin benar memang mereka sering melakukan taruhan, hanya saja yang menjadikan hal itu absurd adalah hal yang mereka pertaruhkan. Seperti dalam cerita ini, adalah taruhan A Ngong dengan A Tong. Mereka berdua berani bertaruh akan menerima durian yang jatuh dari pohonnya dengan telapak tangan jika kalah dalam taruhan. Mereka bertaruh apakah si Ikal akan pergi ke dokter Diaz mengobati sakit giginya apakah tidak.

Dua hal di atas hanya merukapan contoh fenomena absurd yang ada dalam novel Maryamah Karpov ini. Sebenarnya masih ada ke-absurd-an yang lain, hanya saja tidak separah dua contoh di atas.

Selaiknya dalam menulis novel, seseorang menjaga karakteristik novelnya, apakah itu bersifat realis, kultural, absurd dan yang lain-lainnya. Janganlah mencampur-adukan antara satu dan yang lainnya karena—menurut saya—akan mengurangi nilai kesusastraan yang diusung oleh cerita. Kalaulah menginginkan sebuah cerita absurd, jadikanlah semuanya absurd, kalao menghendaki realis, ya jangan separoh-separoh.

It’s may all that I could say about Maryamah Karpov story. And it’s just a short hipothesis I could comment after reading of it Novel. But however, it’s amazing and inspirated story need to read to everyone.

Posted in: Me and Books