Bumi Penentang Nan Tak Pernah Padam

Posted on September 9, 2009

0


Dari awal bagian buku sampai ahir, yang terkesan adalah semangat menentang dan jiwa penentang penulis. Tidak lain dan tidak bukan. Semua ditentang kecuali ilmu pengetahuan, yang membawa kemajuan.

Pramoedya, dalam novel ini berhasil memunculkan ruh perlawanan dari awal sampai ahir cerita. Sehingga cerita yang disugukan hanya berupa ketegangan-ketegangan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut yang secara otomatis membuat urat nadi pembaca menjadi tegang dan ingin tahu klimaks permasalahan. Siapa pemenangnya, dan bagaimana pengatasan masalah yang terjadi. Ketegangan yang dimunculkan penulis adalah ketegangan antara tokoh protagonis dan antagonis, meskipun dalam banyak hal pihak antagonisnya tidak selalu musuh nyata bagi protagonis, hanya  tokoh yang dianggap memiliki sifat-sifat tercela dan tidak cocok dengan idealisme protagonis.

Penentangan-penentangan yang ada dalam novel ini mencakup dalam banyak segi; politik, tata sosial kemasyarakatan, moral, dan norma-norama yang berlaku dalam sebuah masyarakat.

Dalam segi politik, jelas sekali kalau si tokoh, dalam hal ini Minke sangat menentang yang namanya kolonial belanda yang menjajah tanah pribumi. Menginjak-injak harkat dan martabat kaum pribumi, mengagung-agungkan segala hal yang berkenaan dengan Eropa, serta menganggap bahwa kaum pribumi hanyalah masyarakat terbelakang dan hanya layak menjadi jongos mereka. Oleh karenanya, mereka didiskreditkan dari persoalan-persoalan politik serta hak-haknya sebagai manusia. Kemanusiaan mereka diperkosa, ditelanjangi tanpa memerhatikan norma-norma serta nilai-nilai. Diperlakukan seperti hewan, bukan selayaknya manusia.

Itulah politik yang ditentang Minke dalam hidupnya. Politik narsisme yang menghiasi setiap otak dan kepala orang-orang Eropa kala itu. Kala menjajah dan menginjak-injak tanah masyarakat pribumi. Tanah jajahan mereka di belahan bumi mana pun.

Segi sosial kemasyarakatan. Secara implisit, penulis Bumi Manusia ini juga menentang tata kehidupan sosial kemasyarakatan yang selalu “pasrah dan mengalah”. Baginya, tatacara hidup seperti itu hanya akan membuka pintu masuknya penjajahan dan penindasan kaum dan bangsa lain terhadap gaya hidup masyarakat yang selalu mengalah dan pasrah akan takdir alam. Tidak mau berusaha melawan sama sekali.

Bahkan apabila datang kaum lain yang lebih kuat dan lebih berkuasa, orang-orang yang hidup di dalam lingkup masyarakat tersebut malah rela dan ridha dengan segenap lubuk hati untuk menjadi jongos-jongos dan antek-antek para kolonial tersebut. Hanya untuk mencari perlindungan hidup dan sebutir nasi. Mereka bekerja keras memberikan pelayanan eksklusif kepada para penjajah dengan memeras keringat dan jerih parah rakyat dan masyarakat seperjuangan mereka. Memberikan service kepada kolonial dengan hasil-hasil bumi yang mereka ketam dengan usaha dan keringat yang tidak sedikit. Tapi, hanya karena mental-mental busuk para masyarakat pribumi, sebagian besar hasil-hasil bumi mereka justru diserahkan kepada para kolonial yang memang datang untuk merampas, merampok, dan menjarah kekayaan pribumi tanpa harus bekerja keras.

Perlawanan dalam segi ini sangat kentara dari sikap perlawanan Minke yang selalu tidak mau mengalah dalam berurusan dengan orang-orang, terutama orang Eropa. Meskipun pribumi, dia berusaha dengan seribu satu jalan untuk selalu melawan musuh yang merampas segala apa yang menjadi haknya. Mereka (musuh) sama sekali tidak berhak untuk didiamkan saja tanpa dilawan dan ditentang. Dan penyebab utama mengapa bangsa asing bisa menjajah dan menginjak-injak bangsa kita adalah tidak ada perlawanan, kita hanya tunduk dan patuh di bawah ketiak mereka. Jika saja semua pribumi tidak menjilat tanahnya sendiri, bangsa asing tidak akan berani datang dan bertengger di tanah kita selama ratusan tahun. Jika saja semua pribumi mengadakan perlawanan, penjajah tidak akan betah lama memboyong kekayaan alam milik kita.

Tapi, kekerdilan hati dan ketakutan yang bertengger di jiwa kitalah yang membuat penjajah menari-nari ratusan tahun di tanah air kita. Kekerdilanlah yang mencetak kita menjadi babu-babu dan jongos-jongos penjajah di rumah kita sendiri.

Moral juga tidak terlepas dari tentangan sang penulis. Dia sangat menentang segala moral busuk dan biadab yang dilakukan seseorang, yang menurutnya tidak sesuai dengan logika dan ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya. Sanikem, (Nyi Ontosoroh) satu di antara tokoh yang menjadi korban tentangan moral penulis, meski pada ahirnya dia menjadi ibu iparnya sendiri. Saat novel ini mulai menceritakan tentang kehidupannya, penulis telah menaruh mata sinis dan menjustifikasi moral Sanikem yang ternyata seorang Gundik atau Nyai salah seorang pembesar belanda, Tuan Herman Mellema.

Dalam tatanan moral, tokoh selain Nyi Ontosoroh yang ditentangnya antara lain; orang tua Sanikem, yang rela menjual anaknya untuk kepada Herman Mellema untuk mendapatkan sebenggol uang. Robert Suurhof, kakak kandung Annelise yang selalu bangga disebut sebagai keturunan Eropa dan muak kepada kaum pribumi meskipun dia peranakan Eropa dan pribumi. Anak Herman Mellema dengan Nyi Ontosoroh. Herman Mellema, tuan Nyi Ontosoroh yang menjadi linglung setelah dituntut oleh ir. Maurist, anak kandungnya sendiri dengan istri sahnya di Belanda, untuk bertanggungjawab atas tindakannya membiarkan Nyonya Maurits terkatung-katung. Menuduh istrinya selingkuh dan membiarkannya begitu saja tanpa kejelasan, tidak menceraikan dan mengusutnya ke pengadilan.

Tokoh-tokoh itu hanya di antara korban kritik penulis yang dianggap tidak bermoral, dengan bahasa yang halus memiliki kelemahan moral. Setiap orang yang ditulis dalam novel ini tidak lepas dari catatan merahnya, seberapa pun banyak-sedikitnya catatan itu.

Yang tidak dilupakan penulis pula dalam novel ini adalah penentangan atas norma-norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat, terutama adalah masyarakat jawa yang masih menjunjung tinggi kasta. Dia menentang tatacara menghadap (sowan) kepada raja-raja jawa yang mengharuskan bersimpuh, berjalan setengah menunduk dengan lutut, melepaskan alas kaki jauh-jauh sebelum memasuki pendapa kerajaan dan lain sebagainya. Itu semua dia anggap sebagai sebuah loyalitas yang berlebihan sehingga hanya mewariskan ketakutan pada kaum pribumi dan kaum cilik yang pada ahirnya menjadikan mereka selalu “sendiko dawuh” kepada atasannya. Tidak peduli apakah atasannya benar atau salah. Itulah loyalitas yang hanya mewariskan kebodohan dan penindasan. Tidak sesuai dengan kemanusiaan. Karena semua manusia punya hak yang sama untuk saling dihormati satu sama lain. Bukan salah satu menghormati yang lain menginjak-injak.

Dan itulah di antara tentangan-tentangan Pramoedya melalui Bumi Manusianya. Benar-benar menentang dan melawan tanpa henti, tanpa titik. Segalanya dia tentang tanpa meninggalkan pengecualian. Tak heran jika banyak peneliti yang menyimpulkan bahwa dia adalah seorang pembangkang. Dan, menurut saya, dia memang seorang “pembangkang”. Akan tetapi dia membangkang untuk meninggikan derajat kaum cilik, kaum poletar, agar tidak selalu menjadi bulan-bulanan para borjuis.

Inilah Bumi Manusia, bumi wong cilik. Wong cilik yang dipenuhi ambisi perlawanan dan penentangan akan penjajahan, kolonial dan penginjak-injakan hak manusia.

Posted in: Me and Books