Pengantar umum studi sejarah filsafat[1]

Posted on Desember 13, 2009

2



Filsafat; fenomena humanis, tarik ulur, dan harus dipelajari

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.”[2]

Allah swt. telah menciptakan manusia dengan dibekali berbagai kelebihan dan keutamaan. Di antara keutamaan yang dititipkan dalam diri manusia adalah akal pikiran, yang membedakannya dari makhluk-makhluk lain yang ada di alam ini.

Akal manusia punya kemampuan untuk memelajari dan menganalisa pelbagai persoalan dan fenomena yang ada di sekitarnya. Dan memang itulah peran akal sejak diciptakan Allah sampai manusia mati.

Manusia selalu berusaha memikirkan hal-hal yang ada di dalam alam yang luas ini, yang menjadi tempat hidupnya. “Siapakah yang mengadakannya?” “Mengapa diciptakan?” “Dari mana alam ini bermula dan ke mana akan bermuara?”

Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut berusaha dijawab oleh manusia. Ada yang beruasaha menjawab berdasarkan pada mitologi dan legenda, ada yang berusaha menjawab dengan mendasarkan pada akal pikiran, dan ada pula yang menjawabnya berdasarkan pengetahuan keagamaan.

Apa saja bentuk interpretasi manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dan bagaimanapun cara pemikirannya dalam mencari solusinya, secara umum dapat kita katakan bahwa manusia tersebut telah berfilsafat. Proses berfilsafat manusia terjadi tatkala mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Dari sini dapat kita katakan bahwa filsafat merupakan fenomena humanis. Tidak ada waktu dan tempat dalam kehidupan manusia kecuali akalnya selalu mencari tahu jawaban atas persoalan-persoalan itu. Inilah maksud bahwa filsafat adalah fenomena humanis.

Makna humanisme filsafat itu adalah bahwa filsafat berkaitan erat dengan manusia sabagai manusia tanpa memerhatikan tempat, waktu, agama dan batasan-batasan lain yang membatasi eksistensi manusia.[3]

Studi filsafat—baik historis maupun analisis—merupakan bahasan yang sangat luas untuk dikaji, selain juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan pemikiran yang mendalam. Mengingat karena pembahasan filsafat, terutama kajian analitis pemikiran-pemikiran filsafat, tidak pernah terlepas dari tarik ulur pendapat yang tidak pernah usai. Tatkala ada sebuah tesis mengenai suatu objek bahasan,  muncullah antitesis, dan muncul setelahnya sintesis dari keduanya. Dan begitulah kenyataan yang ada dalam objek-objek bahasan filsafat.

Tarik ulur pendapat mengenai filsafat dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok. Pertama, kritik filsafat dari luar pagar filsafat. Berupa pengingkaran terhadap filsafat itu sendiri, tidak mengakui adanya filsafat. Menganggap bahwa filsafat tidak bermakna sama sekali dan tidak ada manfaat memelajarinya. Kedua, kritik dari dalam. Biasanya berupa pematahan suatu pendapat berdasarkan pengetahuan filsafati pengkritik, untuk kemudian digantikan dengan pendapat yang menurutnya lebih benar dan layak.[4]

Memelajari filsafat, seperti yang diterangkan Ibnu Rusydi di dalam bukunya, Fashlu al-Maqâl Fîmâ baina al-Hikmah wa asy-Syari’ah min al-Ittishâl, hukumnya wajib. Karena kerangka kerja filsafat, yang dalam bahasa Ibnu Rusydi di dalam buku itu adalah hikmah, tidak lebih dari sekadar memerhatikan segala yang ada atau maujud dan mengambil pelajaran dari itu semua dengan menggunakan akalnya untuk menunjukkan adanya Dzat yang menciptakannya.

Dia menyatakan bahwa ada banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia menggunakan akal serta memerhatikan dan mengambil pelajaran dari segala yang ada di muka bumi ini.

“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.”[5]

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah”[6]

Ayat pertama meunjukkan kewajiban menggunakan qiyas akal atau qiyas akal dan agama secara bersama-sama. Sedangkan ayat yang kedua menganjurkan kita untuk memutar otak memerhatikan dan mempelajari segala hal yang ada di sekitar kita.[7]

Itu menunjukkan bahwa belajar filsafat, dalam artian mendalami segala sesuatu secara mendetail dan menyeluruh dengan menggunakan akal pikiran, bukanlah hal yang terlarang di dalam Islam, justru diperintahkan. Hal itu bisa dilihat di dalam banyak ayat yang ada di dalam al-Qur’an—tidak hanya satu atau dua ayat.

Di dalam al-Qur’an, Allah menginformasikan kepada kita bahwa di antara orang yang diberikan keutamaan dengan ilmu ini adalah Abu al-Anbiyâ` Ibrahim as.[8]

“Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.” [9]

Apakah filsafat itu?[10]

Kata filsafat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Yunani. Kata filsafat, di dalam bahasa Yunani, adalah kata majemuk atau gabungan dari dua kata. Pertama, philia yang artinya cinta, persahabatan, atau teman. Kedua, shopia yang artinya kebijaksanaan, ilmu atau kebenaran. Jika digabungkan, maka artinya menjadi cinta kebijaksanaan, senang akan ilmu, atau teman kebenaran. Sedangkan kata filsuf atau filosof—saya tidak tahu mana yang sudah baku—berasal dari kata philein dan shopos. Artinya pecinta kebijaksanaan, teman kebenaran, dan pecinta ilmu. Jadi, seorang filsuf adalah orang yang menjadikan tujuan hidupnya untuk mencari kebenaran dan kebijaksanaan.

Para peneliti berbeda-beda pendapat mengenai siapa orang yang pertama kali mengggunakan kata filsafat. Ada yang berpendapat bahwa orang yang pertama kali menggunakannya dalam pembicaraan adalah murid-murid Socrates. Pendapat itu mereka simpulkan dari perkataan Plato ketika hendak membedakan antara filsuf dengan orang sophist. Plato menjelaskan bahwa filsuf berkecimpung dengan pengetahuan karena pengetahuan itu sendiri, bukan karena tujuan dan kepentingan lain yang ada di belakangnya. Di waktu yang sama, kaum sophist berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain mengajarkan ilmu pengetahuan kepada para pemuda untuk mendapatkan upah dan bayaran dari apa yang disampaikannya. Dari perkataan Plato disebutkan bahwa Socrates sendiri juga mengatakan bahwa dirinya bukanlah seorang hakim atau bijak. Karena, bijaksana hanya layak disandarkan kepada dewa-dewa atau Tuhan. Akan tetapi dia mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang cinta kebijaksanaan. Dengan kecintaannya itu, dia selalu berusaha mencari pengetahuan yang masih belum dimengerti.

Pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama kali menggunakan kata filsafat adalah seorang filsuf Yunani bernama Phitagoras (572-497 S.M). Dialah orang pertama kali yang menggunakan kata filsafat dalam artian mencari hakikat dari segala sesuatu. Dialah yang mengganti kata bijaksana (hikmah) dan bijak (hakim) dengan kata cinta kebijaksanaan dan pecinta kebijaksanaan. Hal itu diketahui dari pernyataannya, “Di antara manusia, ada orang yang gemar mencari kemuliaan, ada yang sibuk mencari harta benda, dan sedikit sekali orang yang tidak menghiraukan itu semua dan berlih membahas tentang hakikat segala sesuatu. Mereka itulah orang-orang yang menamai dirinya para pecinta kebijaksanaan atau filsuf.”[11]

Dari penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa kebijaksanaan hanya layak disandarkan kepada Tuhan atau dewa-dewa, sedangkan filsuf hanyalah orang-orang yang mencintai kebijaksanaan dan kebenaran dan selalu berusaha memeroleh kebenaran dan hakikat dari segala sesuatu.

Itu arti filsafat secara etimologi. Sedangkan secara terminologi, sulit sekali mendapatkan definisi yang singkat dan mendalam seperti ilmu-ilmu lain selain filsafat. Kesulitan pendefinisian tersebut kembali pada dua faktor utama; pertama, pengetian filsafat berbeda-beda dari satu masa dengan masa yang lain. Pengertian filsafat pada masa Yunani berbeda dengan pengertian pada abad pertengahan, pengertian pada abad pertengahan juga berbeda dengan pengertiannya di jaman modern. Kedua, pengertian filsafat juga berbeda-beda antara satu aliran dengan aliran yang lain. Pengertian filsafat menurut aliran empirisme berbeda dengan pengertian aliran idealisme, pengertian yang diajukan pengikut idealisme tidak diterima oleh aliran intuitisme, pengertian yang dari aliran intuitisme berbeda lagi dengan pengertian aliran pragmatisme.[12]

Dalam kesempatan ini, saya hanya akan memaparkan beberapa pengertian filsafat dalam beberapa kurun waktu dan menurut sudut pandang para filsuf yang mendefinisakannya.[13]

Para filsuf pada masa pra-Socrates menaruh banyak perhatian mengenai alam raya dan unsur-unsur yang membentuknya. Apakah dari air, udara, tanah, api, atom, ataukah yang lainnya. Oleh karena itu, filsafat pada masa ini diartikan sebagai penelitian teoritis mengenai alam raya serta penafsiran fenomena wujud.

Berbeda dengan masa sophist dan masa Socrates. Pada masa ini, objek kajian filsafat beralih dari pembahasan kosmologi menjadi pembahasan mengenai manusia. Hanya saja, kaum sophist lihai memutarbalikkan dan memanipulasi pembicaraan, mereka sangat intens dalam berdebat dan berdiskusi. Sehingga filsafat bagi mereka berarti kegiatan teoritis yang bertujuan untuk mengalahkan musuh dalam berdebat baik dengan cara yang benar maupun salah.

Melihat kemerosotan etika yang melanda masyarakat akibat sikap dan ulah kaum sophist, Socrates (469-399 S.M) merasa perlu memperbaiki tatanan masyarakat yang telah rusak itu. Dia merasa bertanggungjawab untuk mematahkan pendapat-pendapat kaum sophist serta mengajarkan akhlak yang mulia kepada masyarakat. Dia mengartikan filsafat sebagai hikmah atau kebijaksanaan, dan yang dimaksudkan dengan kebijaksanaan di sini adalah pengetahuan. Hanya saja, dia membatasi pengetahuan yang dimaksud dengan fadhilah atau akhlak mulia dan baik.

Filsafat pada masa Socrates berorientasi pada sisi etika. Dia menjadikan pengetahuan terhadap etika atau akhlak yang baik sebagai point pembahasan filsafat.

Beralih ke masa Plato (427-348 S.M) dan Aristoteles (384-322 S.M), definisi filsafat mulai meluas. Definisi filsafat menurut Plato adalah mencari pengetahuan, apa pun jenis pengetahuan itu. Dan filsuf  adalah seorang yang tujuannya hanya untuk mengetahui hakikat segala sesuatu serta mengetahui hal-hal yang azali dan asal-muasal pertama segala sesuatu. Sedangkan Aristoteles mendefinisikan filsafat dengan pengetahuan mengenai wujud seperti adanya, sebagaimana adanya, atau filsafat itu adalah ilmu tentang penyebab atau titik tolak pertama segala sesuatu.

Aristoteles menamainya dengan filsafat pertama atau metafisika. Selain itu dinamakan juga dengan filsafat ketuhanan karena objek bahasan terbesarnya adalah Tuhan—sebagai wujud pertama dan penyebab keberadaan segala sesuatu.

Pengertian filsafat menyempit kembali pada masa epikurisme dan stoisisme. Filsafat pada masa epikurisme diartikan sebagai ilmu tentang fadhilah, akhlak mulia serta usaha menciptakannya dalam kehidupan praktis. Sedangkan pada masa stoisisme, filsafat diartikan sebagai usaha untuk memeroleh kebahagiaan dengan menggunakan akal. Kedua definisi itu mempersempit cakupan filsafat dan hanya memfokuskannya pada sisi praktis saja. Filsafat dalam dua masa ini beralih menuju ke pembahasan akhlak dan perilaku, tidak menyentuh pembahasan wujud (ontologi) sama sekali.

Pada abad pertengahan (4-14), filsafat sangat berhubungan erat dengan agama. Para filsuf pada abad itu berupaya menyatukan antara filsafat dengan agama. Mereka menjadikan metafisika sebagai ilmu yang paling mulia dan agung. Selain juga induk segala ilmu pengetahuan.

Al-kindi (185-252 H) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu tentang hakikat segala sesuatu sesuai batas kemampuan manusia, karena dengan ilmunya seorang filsuf bertujuan mencari kebenaran dan dengan perbuatannya berusaha berbuat berdasarkan kebenaran.

Sedangkan Al-farabi (295-339 H) mendefinisikan filsafat sebagaimana Aristoteles mendefinisikannya. Filsafat menurutnya adalah ilmu tentang segala sesuatu seperti apa adanya. Filsafat dalam pandangan Al-farabi juga mencakup semua ilmu, baik itu berupa ilmu-ilmu teoritis maupun praktis. Tidak jauh beda dari Al-farabi, Ibnu Sina (370-428 H) mendefinisikan filsafat sebagai kesempurnaan jiwa manusia. Dia juga membagi filsafat ke dalam dua bagian, yang berhubungan dengan perkara-perkara yang perlu kita ketahui tanpa perlu dilakukan, dinamakan filsafat teoritis. Dan yang berhubungan dengan perkara-perkara yang perlu dilakukan, dinamakan dengan filsafat praktis.

Dari mulut para filsuf islam, kita beralih ke masa modern. Fransis Bacon (1561-1626 M), seorang filsuf inggris, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang membahas tentang segala yang ada dengan menggunakan akal. Sedangkan menurut Thomas Hobbes (1588-1679 M), filsafat adalah ilmu tentang sebab akibat segala sesuatu.

Menuju ke masa kontemporer, pengertian filsafat mulai menyempit. Filsafat tidak lagi membahas teori tentang ontologi dan epistemologi, akan tetapi hanya terbatas pada bahasan mengenai wujud manusia dan perjalanan kehidupannya. Di antara mereka ada yang masih terpengaruh dengan orientasi lama filsafat yang mencakup ontologi dan epistemologi. Mereka mendefinisikannya sebagai usaha yang bertujuan untuk memahami wujud, mengetahui diri kita, dan mengerti kedudukan kita di dalam wujud itu karena sebab-sebab rasional atau tujuan-tujuan praktis materialis. Selain itu, ada juga yang mendefinisikannya hanya sebagai metodologi riset yang tujuannya hanya analisa logis atas bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan keseharian kita atau diciptakan ilmuwan dalam penelitian ilmiah mereka. Oleh karena itu, definisi filsafat bagi mereka adalah menjelaskan ide-ide dan pikiran-pikiran secara rasionalis.

Masih banyak lagi definisi-definisi filsafat yang tidak kami sebutkan di sini. Hal itu, seperti yang telah dikemukakan di depan, karena pengertian filsafat berbeda-beda dari satu masa ke masa yang lain dan dari satu aliran dengan aliran yang lain. Di sini kami hanya memaparkan beberapa saja agar diketahui bahwa tidak pernah ada satu kesepakatan dalam setiap pokok bahasan filsafat.

Objek kajian pokok filsafat[14]

Para peneliti berbeda-beda pendapat mengenai objek kajian pokok filsafat. Perlu diketahui bahwa pembahasan filsafat, pada mulanya, mencakup segala sesuatu. Para filsuf membahas segala hal yang bisa dibahas oleh akal. Karenanya, tidak ada yang tidak menjadi objek kajiannya karena filsafat tidak hanya membahas satu hal saja.

Hanya saja, tatkala para penganut positivisme mempersempit medan pembahasan filsafati, menjauhkan metafisika dari medan pembahasan karena dianggap tidak memiliki arti sama sekali, menganggap bahwa filsafat adalah metodologi tanpa objek kajian, hanya sekadar analisa kata secara logis, dan banyak filsafat kontemporer yang beralih dari pembahasan wujud mutlak menuju pembahasan manusia, karakteristik pengetahuan (epistemologi), dan hakikat aksiologi, maka banyak sekali ilmu-ilmu yang memisahkan diri dari filsafat. Seperti ilmu alam dan ilmu humanis dengan segala cabangnya. Tatkala itu terjadi, objek kajian filsafat menjadi semakin meruncing.

Dapat dikatakan bahwa filsafat memiliki tiga objek pembahasan pokok.

Pertama, ontologi. Membahas tentang wujud secara mutlak. Pertanyaan yang terlontar biasanya apakah? Ontologi juga membahas ciri-ciri wujud secara umum, fenomena-fenomena dan kejadian-kejadian alam. Apakah alam raya ini memiliki sebuah aturan tetap ataukah tidak? Apakah kejadian-kejadian tersebut muncul dengan sendirinya ataukah akibat dari tatanan materi dan gerakan? Dan apakah peristiwa-peristiwa itu berjalan tanpa tujuan ataukah memiliki tujuan? Apakah di balik fenomena yang berubah-ubah ini ada tuhan? Lalu, apakah hubungannya dengan ciptaan-ciptaannya? Apakah wujud ini materi ataukah ruh saja? Serta persoalan-persoalan lain yang berhubungan dengan kosmologi dan metafisika yang dibahas di dalam berbagai aliran filsafat.

Kedua, epistemologi. Membahas pengetahuan manusia. Apakah manusia itu bisa mengetahui sesuatu? Dengan apa manusia itu mengetahuinya? Dan apakah pengetahuannya benar ataukah salah, serta batasan-batasan pengetahuan manusia.

Yang menjadi objek kajian yang dibahas dalam epitemologi secara umum ada tiga macam.

  1. Apakah pengetahuan itu bisa diperoleh manusia. Di dalam masalah ini ada persengketaan antara dua kubu yang saling bertentangan. Ada yang menyatakan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu. Pendapat ini dwakili oleh aliran dogmatis, aliran yang percaya bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu. Di kubu lain ada kaum skeptis yang meragukan pengetahuan manusia. Mereka mengatakan bahwa manusia tidak mungkin bisa mengetahui sesuatu.
  2. Media atau sarana yang digunakan manusia untuk mengetahui sesuatu. Di sini, kita mengenal kaum rasionalis yang mendasarkan pengetahuan manusia pada akalnya. Ada juga kaum empirisme yang mendasarkan pengetahuan manusia pada indera. Selain itu, ada juga kaum kritisisme yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia diperoleh dari akal dan indera. Kedua-duanya punya andil dalam kerangka pengetahuan manusia.
  3. Karekteristik pengetahuan. Apakah pengetahuan itu benar-benar ada dan terpisah dari orang yang memelajarinya seperti pendapat penganut realisme ataukah pengetahuan itu hanya sekadar bentukan dari pemikiran kita seperti yang dikatakan para idealisme atau pengetahuan itu memang ada dan memiliki tempat dalam dunia nyata. Pendapat ini diwakili oleh aliran fenomenologi.

Ketiga, aksiologi. Yang dibahas di dalam aksiologi adalah nilai-nilai mutlak. Nilai-nilai mutlak tersebut ada tiga macam; kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Pembahasan di dalamnya berkisar pada apakah nilai-nilai itu sifat suatu benda yang punya wujud sendiri, terlepas dari akal yang mengetahuinya atau apakah hanya berupa makna yang ada di dalam akal pikiran.

Aksiologi mencakup tiga macam ilmu standarisasi; logika, etika, dan estetika. Ilmu logika membahas nilai kebenaran, karena merupakan kaidah yang jika diperhatikan akan menjauhkan akal dari kesalahan berpikir. Sedangkan ilmu etika membahas tentang nilai akhlak karena berhubungan dengan pembahasan akhlak mulia dan bagaimana melakukannya selain juga membahas akhlak yang jelek dan cara menjauhinya. Ilmu etika memberikan suri tauladan mengenai bagaimana seharusnya perilaku manusia. Sedangkan estetika memberikan standar bagaimana sesuatu dikatakan indah.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya filsafat di dalam diri manusia[15]

Pada dasarnya, manusia itu adalah makhluk yang senantiasa berpikir, maka dari itu, pemikiran filsafati manusia merupakan hasil dari faktor-faktor berikut.

Akal manusia diciptakan untuk selalu berpikir, memeroleh pengetahuan, dan mencari hakikat segala sesuatu. Sebagaimana mata yang diciptakan untuk melihat, akal diciptakan untuk mengetahui segala sesuatu yang ada di alam ini.

Selain fungsi dasar akal manusia, faktor lain yang menimbulkan pemikiran filsafati adalah perasaan heran. Pemikiran filsafati adalah anak dari perasaan heran manusia terhadap sesuatu. Pada awalnya, manusia merasa heran dengan hal-hal yang biasa, akan tetapi, semakin lama semakin mempertanyakan hal-hal yang lebih besar lagi. Tatkala merasa bingung dan heran, manusia mengerti bahwa dia bodoh. Kemudian berfilsafat untuk lari dari kebodohannya dan mencari tahu apa yang tidak dipahaminya.

Setelah merasa heran dan mengetahui jawaban-jawaban dari keheranan itu, manusia perlu membedakan antara jawaban-jawaban yang benar dan yang salah. Dan yang menjembatani itu adalah keragu-raguan. Bisa dikatakan bahwa keragu-raguan merupakan faktor penting dalam berfilsafat untuk menguji pendapat dan pikiran kita. Keragu-raguan tidak bisa terpisahkan dari seorang filsuf.

Faktor lain yang melatarbelakangi kemunculan pemikiran filsafati adalah keinginan manusia untuk selalu memuaskan diri dengan menjawab pelbagai pertanyaan-pertanyaan mendasar yang selalu datang di kepalanya, baik berupa masalah yang berhubungan dengan manusia maupun dengan alam semesta. Untuk menjawab semua pertanyaan itu tidak ada jalan lain selain dengan berfilsafat.

Sebagaimana kebutuhan materi manusia mendorongnya menemukan penemuan-penemuan baru, kebutuhan akal manusia juga mendorongnya untuk berfilsafat.

Sejarah pertumbuhan filsafat

Di manakah pemikiran filsafat pertama kali muncul? Para sejarawan filsafat berbeda-beda pendapat mengenai hal ini. Banyak yang berpendapat bahwa filsafat pertama kali muncul di barat, tepatnya di Yunani sekitar abad ke 6 atau 7 S.M.  filsafat pertama kali muncul di tangan Thales dari Mileta yang hidup sekitar tahun 624-546 S.M. orang yang pertama kali mengungkapkan pendapat ini adalah filsuf Yunani yang sangat terkenal, Aristoteles. Kemudian, pendapat ini diikuti oleh para sejarawan lain semisal Bertmely Sant Helo, Bertrand Russell, Victor Cousin.

Selain sejarawan filsafat barat, ada juga filsuf dan sejarawan filsafat timur yang mengikuti pendapat ini. Di antara mereka adalah Al-Farabi, Asy-Syahrastani, serta Ibnu Khaldun. Sedangkan dari kalangan pemikir muslim modern adalah Zaki Najib Mahmud, Ahmad Amin, dan Yusuf Kiram.[16]

Sejarawan lain berpendapat bahwa Yunani bukanlah tempat pertama kali lahirnya filsafat, akan tetapi filsafat telah ada sebelum itu. Mereka berpendapat bahwa filsafat telah ada pada pemikiran timur kuno, seperti pada rakyat India, Persia, Iraq, dan mesir kuno.

Mereka beralasan, tidak mungkin umat manusia tidak memiliki filsafat sama sekali sampai terbentuk Asia Kecil. Kemudian secara tiba-tiba para pemikir Yunani melahirkan pemikiran-pemikiran filosofis.[17]

Di antara pemikir yang sependapat dengan pendapat ini adalah Imam Al-Ghazali dan Al-Qifthi. Mereka dari kalanagan pemikir zaman dulu. Adapun para sejarawan saat ini yang sepakat dengan pendapat ini adalah Dr. Muhammad Ghilab dalam bukunya al-Falsafah al-Ighriqiyyah, Dr. Muhammad Al-Bahi dalam bukunya Mudzakarah Fî al-Falsafah, dan Prof. Ahmad Abduh Khairuddin dalam Târîkh al-Falsafah.[18]

Selain para pemikir muslim, pendapat ini juga diamini oleh sejarawan pemikiran barat. Di antaranya Will Durrant, Sarton, dan Mason Oerseil.

Untuk mengetahui kalimat pas yang berhubungan dengan masalah pertumbuhan filsafat, harus merujuk kembali pada pengertian atau maksud filsafat itu sendiri.

Jika yang dimaksudkan dengan filsafat adalah penelitian logis yang bebas dan tersusun, yang berdasarkan analisa, pengertian, dan pembuktian logis, maka filsafat dalam artian ini memang tumbuh di Yunani. Dalam artian bahwa struktur filsafat dengan objek dan metodologinya telah sempurna dan tersusun rapi pada tangan filsuf Yunani. Hal ini bukan berarti bahwa filsafat Yunani dengan seluruh cabang-cabangnya adalah penemuan murni dan asli semuanya. Karena bagaimanapun juga pemikiran filsafati telah ada di daerah timur kuno seperti Cina, India, Persia dan yang lainnya.

Sedangkan jika dimaksudkan filsafat dalam arti umum, yaitu seluruh pembahasan logis mengenai fisika dan metafisika, tanpa memandang keterpengaruhan atau tidaknya dengan agama dan mitos-mitos, maka filsafat dalam artian seperti ini telah tumbuh di kawasan timur.

Meskipun kalimat filsafat lahir di Yunani, bukan berarti bahwa pemikiran filsafati terbatas pada masyarakat Yunani saja. Bahkan sampai kapan pun, pemikiran filsafati juga tidak akan terbatas pada satu bangsa tanpa bangsa yang lain. Pemikiran filsafati akan selalu tetap menjadi hak setiap manusia, tanpa ada hubungannya dengan batasan wilayah, bangsa, agama, dan juga warna kulit.[19]

Klasifikasi filsafat

Secara umum, filsafat—berdasarkan letak geografis dan budaya—dapat diklasifikasikan dalam dua mainstream pokok. Filsafat barat, yang mencakup Yunani, Eropa, Amerika serta negara-negara yang masuk dalam kata “barat”. Serta filsafat timur, mencakup wilayah Asia seperti India, Cina, Persia, dan juga wilayah timur tengah.

Walaupun sebenarnya kalsifikasi seperti ini kurang tepat, karena pemikiran filsafati ada di setiap kepala manusia di mana pun dia tinggal, dan seberapa pun tingkat kedalaman pemikirannya, akan tetapi klasifikasi seperti inilah yang masyhur dan sering dibahas dalam studi sejarah filsafat. Hal itu karena, menurut penulis sendiri, pemikiran-pemikiran mereka punya andil dan pengaruh besar dalam sejarah pemikiran filsafat manusia.

Dalam kesempatan ini, saya tidak akan banyak membahas pemikiran filsafat barat dan timur secara rinci dan detail, mengetahui pendapat-pendapat mereka satu persatu. Sekadar hanya ingin mengenalkan kerangka umum sejarah perjalanan filsafat.

Filsafat barat

Di dalam ensiklopedia filsafat barat, kita mengenal adanya filsafat klasik, abad pertengahan, dan modern.

Zaman klasik

Zaman klasik atau masa filsafat Yunani, muncul sekitar abad ke-6 S.M sampai abad ke-6 M. Dapat dikatakan, filsafat klasik terbagi dalam tiga masa. Masa pertumbuhan filsafat, kita kenal sebagai masa pra-socrates. Filsafat pada masa ini hanya berupa usaha-usaha untuk mengetahui asal mula alam raya ini.[20]

Pada masa ini, kita dikenalkan pada nama-nama filsuf seperti Thales, Anaximender, Anaximenes, Herakleitos, Phitagoras, Xenophanes, Pharminides, Empedocles, Democritus, dan Anaxagoras. Mereka membahas asal muasal segala sesuatu. Ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu bermula dari air, ada juga yang berpendapat dari tanah, selain ada juga yang mengatakan dari api, dari udara, atau dari atom. Selain itu, ada juga yang menyatakan bahwa asal muasal segala susuatu itu adalah nada atau titik. Dan lain sebagainya.[21]

Dari masa pertumbuhan, kemudian beralih ke masa keemasan zaman klasik. Masa keemasan filsafat pada zaman klasik berada di tangan tiga filsuf besar Yunani; Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Socrates, seperti yang dicatat dalam buku-buku sejarah, adalah filsuf yang telah menurunkan filsafat dari langit ke bumi. Maksudnya, dialah yang mengalihkan filsafat dari pembahasan mengenai Tuhan dan metafisika beralih ke pembahasan mengenai manusia.[22] Kemudian, filsafat mengalamai masa kematangannya setelah Socrates, di tangan Plato dan Aristoteles.

Setelah masa kejayaan yang berhasil diraih filsafat di tangan tiga filsuf besar Yunani, filsafat klasik kembali mengalami kemunduran. Tidak ada penemuan dan inovasi baru dalam dunia filsafat. Yang ada hanya mengekor pada pendahulu-pendahulunya, filsafat kalsik pada masa ini kembali menjadikan akhlak dan agama sebagai point pembahasan filsafat.[23] Dan mungkin inilah yang mengilhami kelahiran masa kegelapan pada abad pertengahan.

Abad pertengahan

Dari sisi sejarah, yang dimaksud dengan abad pertengahan adalah masa yang dimulai dari runtuhnya imperatur Romawi tahun 395 sampai keruntuhan Konstantinopel pada tahun 1453. atau sekitar abad ke-4 sampai abad ke-14.[24] Abad pertengahan sering juga disebut dengan masa kegelapan Eropa. Hal itu disebabkan karena terjadi kemerosotan dan kemunduran besar baik dalam masalah sosial, agama, maupun pemikiran.

Abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua masa. Masa patristik dan masa skolastik. Masa patristik menguasai medan pemikiran sekitar abad ke-4 sampai abad ke-8. Yang kemudian digantikan dengan masa Skolastik yang dimulai abad ke-9 sampai abad ke-14.

Para filsuf pada masa ini banyak memnahas tentang korelasi antara akal dan kitab suci, atau antara rasio dan dogma kristen. Mereka berusaha menyinergikan antara pengetahuan yang didapat dari akal dan pengetahuan yang ada di kitab suci mereka. Ajaran filsafat pada masa ini sangat terbatas pada pembesar-pembesar gereja. Sehingga tidak heran jika para filsuf abad ini juga lahir dari kalangan gereja.

Karakter pokok filsafat pada masa ini adalah ketundukan pada ajaran gereja. Artinya, semua usaha filsafati dan rasionalis haruslah sejalan dengan ajaran gereja. Tidak boleh menyalahinya, atau mengutak-atik ajaran-ajaran sucinya. Pendapat yang sesuai dengan ajaran gereja, dikatakan sebagai pendapat yang benar, sedangkan yang bertentangan adalah salah.

Keterkungkungan pikiran inilah yang ahirnya mengilhami lahirnya masa renaisans atau kebangkitan Eropa yang kita kenal dengan masa modern.

Masa modern

Menurut para sejarawan, kemenangan Turki atas Konstantinopel pada tahun 1453 yang kemudian diikuti dengan runtuhnya imperialis Byzantium, dan larinya para ilmuwan Byzantium ke Italia, merupakan titik perpindahan abad pertengahan menuju masa modern.[25]

Abad ke-15 dan 16 merupakan awal abad kebangkitan setelah sekitar seribu tahun tenggelam dalam abad kegelapan. Pada masa itu, para filsuf memorak-porandakan tatanan gereja yang mengukung pemikiran selama seribu tahun.

Baru pada abad ke-17, revolusi menentang kekuasaan gereja mulai mengendur. Para filsuf cenderung merekonstruksi tatanan yang telah rusak daripada menghancurkannya. Pada abad inilah lahir para punggawa filsafat modern seperti Descartes yang mencoba membangun kembali filsafat kristen. Dia menimba unsur-unsur ajarannya dari Agustin, Einsliem, dan Donis Scoot. Akan tetapi, pemikirannya kemudian membangkitkan ruh yang menentang agama.[26]

Dan setelah itu, muncullah para filsuf dari berbagai dunia di Eropa yang menjelaskan cara pandang mereka, meruntuhkan sudut pandang filsuf yang mendahuluinya. Dan masing-masing cara pandang itu masih punya pengaruh kuat dalam dunia filsafat sampai dewasa ini.

Filsafat timur

Tidak banyak informasi yang penulis ketahui mengenai filsafat timur, khususnya filsafat di Cina, dan India. Dan jarang kita temukan studi yang membagi filsafat timur dalam beberapa periode sebagaimana filsafat barat. Bahkan dalam studi yang membahas filsafat Islam juga tidak ada klasifikasi periodik seperti di filsafat barat. Yang ada hanya pembagian filsfat masyriq (Islam di timur) dan maghrib (Islam di barat). Tokoh yang dikaji pun juga sangat terbatas, bisa diditung dengan jari.

Yang saya tahu bahwa di kawasan timur ada nama-nama yang punya andil dalam pemikiran filsafati seperti Siddharta Gautama/Buddha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong.

Sedangkan dari kalangan timur tengah, atau lebih dikenal dengan filsafat Islam, kita mengenal nama-nama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Suhrawardi, Ibnu Thufail, Ibnu Bajjah, Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya.

Para filsuf timur, khususnya Islam, memiliki kecenderungan orientasi sendiri-sendiri dalam filsafat mereka. Ada yang cenderung memusatkan perhatian pada masalah-masalah ketuhanan, mereka bisa kita namai filsuf ketuhanan. Para pemuka garda depan filsafat ini adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusydi.

Kelompok yang kedua cenderung intens dalam masalah alam atau kosmos, matematika, dan kedokteran. Mereka kita namai dengan filsuf kosmologi. Orang-orangnya antara lain Al-Bairuni, Jabir Bin Hayyan, Abu Bakar Ar-Razi, Hasan Bin Haitsam, dan Al-Khawarizmi.

Ada pula yang cenderung mengambil sisi etika dan sosial. Mereka itu adalah para filsuf etika dan sosial, seperti Ibnu Miskawaih yang intens dalam masalah etika, dan Ibnu Khladun yang mendalami sosiologi.

Kelompok terahir cenderung menyelami sisi ruhani dan pembersihan hati. Mereka itulah yang dinamakan para ahli sufi. Dalam masalah ini kita mengenal Syuhrawardi yang membawa madzhab pencerahan dalam tasawuf dan Ibnu Arabi penganut madzhab manunggaling kawulo gusti atau wihdatul wujud.[27]

Filsafat dan kemajuan peradaban

Dalam penutup kajian kali ini, saya ingin menyampaikan secara singkat hubungan antara filsafat dan kemajuan sebuah peradaban.

Filsafat ada kalanya dikatakan mati dan ada kalanya juga dikatakan hidup. Dikatakan mati apabila hanya menjadi pelajaran di institusi-institusi dan hanya berupa teori-teori tanpa ada penerapan dalam tatanan kehidupan. Jadi, filsafat hanya menjadi menara gading yang jauh dari jangkauan manusia.

Jika ingin agar filsafat itu hidup, maka kita harus menghubungkannya dengan kehidupan keseharian. Menghubungkannya dengan peradaban yang ada pada masanya. Tidak hanya dengan politik dan sosial, karena peradaban mencakup sisi politik dan sosial, selain juga mencakup sisi-sisi penting lainnya.

Perlu diketahui bahwa filsafat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah peradaban. Adanya seorang filsuf dalam suatu negara dan dalam masa tertentu, adalah buah dari peradaban di negara itu dan pada masa itu sendiri. Sang filsuf itulah yang menjadi panglima peradabannya dan menebas jalannya dengan teori-teori yang dihasilkan. Dialah yang memikirkan filsafat lama dan mencoba menemukan filsafat baru yang lebih baik untuk diterapkan. Mengganti tatanan lama yang sudah tidak sesuai atau memasukkan unsur-unsur baru yang lebih sempurna.[28] Dengan demikian, peradaban suatu masyarakat akan menjadi semakin maju.

Daftar pustaka

– Hijazy, Sami ‘Afifi dan Jamaludin Husain ‘Afifi. Dirasât Fî al-Falsafah. Cairo. Diktat kuliah Ushuludin tingkat II, tanpa tahun.

– Al-Khuwaini, Hasan Muharram. 2008. Rihlatî Ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah. Cairo. Mathba’ah Riswan.

– Makawi, Abdul Ghafar. 2009. Madrasah al-Hikmah. Cairo. Al-Hai’ah al-Misriyah al-‘Âmah Li al-Kitâb.

– ‘Afifi, Jamaludin Husain. 1998. A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah Fî al-Masyriq. Cairo. Dâr ath-Thibâ’ah al-Muhammadiyyah.

– Kiram, Yusuf. Târîkh al-Falsafah al-Hadîtsah. Cairo. Dâr al-Ma’ârif. Cetakan ke-5, tanpa tahun.

– ‘Afifi, Jamaludin Husain. 2009. Adhwâ` ‘Ala al-Falsafah al-Aurubiyyah Fî al-‘Asr al-Wasîth. Cairo. Mathba’ah Riswan.

– Rusydi, Ibnu. Fashl al-Maqâl Fîmâ Baina al-Hikmah Wa asy-Syarî’ah Min al-Ittishâl. Cairo. Dâr al-Ma’ârif. Cetakan ke-3, tanpa tahun.

– Ad-Daidi, Abdul Fatah. 1985. Al-Ittijâhât al-Mu’âshirah Fî al-Falsafah. Cairo. Al-Hai’ah al-Misriyah al-‘Âmah Li al-Kitâb.

– Al-Ahwani, Ahmad Fuad. 2009. Fajru al-Falsafah al-Yûnâniyyah Qabla Socrates. Cairo. Al-Hai’ah al-Misriyah al-‘Âmah Li al-Kitâb.


[1] Disampaikan dalam diskusi mingguan MISYKATI.

[2] Surat al-Isrâ` ayat 70.

[3] Jamaluddin Husain ‘Afifi, A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah Fî al-Masyriq, hlm. 3-4.

[4] Abdul Fattah ad-Daidi, al-Ittijâhât al-Mu’âshirah Fî al-Falsafah, hlm.  4.

[5] Al-Hasr ayat 2.

[6] Al-A’râf ayat 185.

[7] Abu al-Walid bin Rusd, Fashl al-Maqâl Fîmâ baina al-Hikmah Wa as-Syarî’ah Min al-Ittishâl, hlm. 22.

[8] Ibid, hlm. 23.

[9] Al-An’âm ayat 75.

[10] Baca lebih lanjut; Hasan Muharram al-Khuwaini, Rihlatî ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah, Sami ‘Afifi Hijazy dan Jamaludin Husain ‘Afifi, Dirasât Fî al-Falsafah, Jamaluddin Husain ‘Afifi, A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah Fî al-Masyriq.

[11] Taufik ath-Thawil, Usus al-Falsafah, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm. 9-10.

[12] Abdul Maqsud Abdul Ghani dan Abdul Fatah Ahmad al-Fawi, Fî al-Falsafah Wa A’lâmihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm 11.

[13] Baca; Jamaludin Husain ‘Afifi, Ma’a al-Falsafah al-‘Âmah Fî Ba’dhi Musykilâtihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm. 12-23.

[14] Untuk memelajari lebih dalam, silakan baca; Jamaludin Husain ‘Afifi, Ma’a al-Falsafah al-‘Âmah Fî Ba’dhi Musykilâtihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm. 47-53 dan Sami ‘Afifi Hijazy, Ru`yah Tahlîliyyah Li Maudhû’i al-Falsafah, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian II, hlm. 1-91.

[15] Baca; Jamaludin Husain ‘Afifi, Ma’a al-Falsafah al-‘Âmah Fî Ba’dhi Musykilâtihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm. 43-45.

[16] Lihat; Jamaludin Husain ‘Afifi, Ma’a al-Falsafah al-‘Âmah Fî Ba’dhi Musykilâtihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm.59-60, dan Hasan Muharram al-Khuwaini, Rihlatî ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah, hlm. 12.

[17] Zakaria Ibrahim, Musykilât al-Falsafah, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm. 65.

[18] Lihat; Jamaludin Husain ‘Afifi, Ma’a al-Falsafah al-‘Âmah Fî Ba’dhi Musykilâtihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm.65, dan Hasan Muharram al-Khuwaini, Rihlatî ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah, hlm. 12.

[19] Jamaludin Husain ‘Afifi, Ma’a al-Falsafah al-‘Âmah Fî Ba’dhi Musykilâtihâ, dalam Dirasât Fî al-Falsafah, bagian I, hlm. 70-72.

[20] Hasan Muharram al-Khuwaini, Rihlatî ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah, hlm. 7.

[21] Ibid. hlm. 9-56.

[22] Baca; Ahmad Fuad Al-Ahwani, Fajru al-Falsafah al-Yûnâniyyah Qabla Socrates, dan Hasan Muharram al-Khuwaini, Rihlatî ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah, hlm. 68.

[23] Hasan Muharram al-Khuwaini, Rihlatî ma’a al-Falsafah al-Yûnâniyyah, hlm. 8.

[24] Jamaludin Husain ‘Afifi, Adhwâ` ‘Ala al-Falsafah al-Aurubiyyah Fî al-‘Ashri al-Wasîth, hlm. 6.

[25] Yusuf Kiram, Târîkh al-Falsafah al-Hadîtsah, hlm. 5.

[26] Ibid. hlm. 8-9.

[27] Jamaluddin Husain ‘Afifi, A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah Fî al-Masyriq, hlm. 69-70.

[28] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Fajru al-Falsafah al-Yûnâniyyah Qabla Socrates, hlm. 3-4.

Posted in: makalah