Memoar tentang “Korupsi”

Posted on Januari 2, 2010

0


Berawal dari sebuah keputusasaan dengan keadaan ekonomi yang tidak berubah selama beberapa tahun menjadi pegawai, permasalahan atau konflik dalam novel ini diangkat. Selama lebih dari dua puluh tahun mengabdi, gaji tidak pernah bertambah. Sedangkan kebutuhan hidup semakin membengkak seiring dengan berjalannya hari, minggu, bulan, dan tahun. Tidak hanya untuk akomodasi harian, akan tetapi juga pendidikan keempat anaknya yang mulai mencekik. Satu sudah lulus SMP dan akan melanjutkan ke SMA, sedangkan yang satu lagi lulus SD dan akan melanjutkan ke SMP.

Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama, aku. Dalam novel ini,  si “aku” digambarkan sebagai seorang yang dahulunya jujur dan dapat dipercaya, sederhana dan penentang KKN yang berkembang di kalangan pegawai pada masa itu. Si aku, di dalam awal novel diceritakan sebagai orang yang sangat idealis dan gigih menentang perilaku serta tindakan asusila pegawai pemerintahan—korupsi. Karena idealisme itulah, salah seorang ajudan di sekolah tempat dia mengajar, sangat menghormatinya, menghargai reputasinya, dan merasa bangga memiliki atasan semacam dia. Ajudan itu adalah seorang mahasiswa yang nyambi kerja untuk mencukupi biaya kuliahnya.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya kebutuhan yang harus dipenuhi tiap hari, membengkaknya kebutuhan yang tidak sebanding dengan pemasukan, kekokohan idealisme yang sudah tertancap sejak sekian tahun itu mulai tergerogoti oleh pikiran-pikiran kotor. Sedikit demi sedikit, kejujuran yang telah berhasil dia bangun selama beberapa masa mulai tergoyahkan. Pikirannya mulai membandingkan kehidupannya sendiri dengan kehidupan teman-temannya yang melakukan korupsi, yang ternyata sangat berbeda. Mereka yang melakukan korupsi tidak pernah pusing-pusing memikirkan apa yang harus dimakannya esok pagi, bagaimana membayar biaya sekolah anak-anak mereka, mereka masih punya banyak simpanan uang korupsi yang lebih dari sekadar cukup untuk menutupi kebutuhan harian dan membayar biaya sekolah bagi anak-anaknya.  Bahkan, mereka bisa membeli barang-barang mewah seperti motor, mobil, rumah mewah dan lain sebagainya.

Berbeda sekali dengan keadaan dirinya yang bertahun-tahun hidup jadi pegawai tetapi masih tetap seperti itu-itu juga; masih mengayuh sepeda, tidak memiliki motor atau mobil yang bisa dibanggakan sebagai seorang pegawai. Meskipun begitu, istrinya sangat mencintainya, bahkan karena kesederhanaan dan kejujuran itulah yang membuat sang istri mau dan mampu hidup dengannya.

Dalam perjalanannya, perang yang berkecamuk, antara mempertahankan idealisme semasa mudanya dan dorongan setan dengan mengatasnamakan kebutuhan-kebutuhan yang semakin membengkak, di dalam hatinya dimenangkan oleh kekuatan jahatnya yang mendorong untuk meninggalkan idealismenya dan melakukan korupsi seperti yang dilakukan teman-teman pegawai lainnya.

Dan mulailah karir korupsinya berjalan. Awalnya, dia hanya korupsi kecil-kecilan, akan tetapi semakin lama semakin berani dan tambah berani lagi. Jadilah dia koruptor kelas kakap. Tidak ada yang tidak mampu di belinya kecuali kesetiaan dan ketulusan istrinya sendiri. Istri yang telah bertahun-tahun setia mendampingi di sisinya dalam keadaan susah payah, sengsara, dan kekurangan. Istri yang sangat penyabar dan neriman.

Dengan perbuatan korupsinya itu, dia harus membayar mahal; kehilangan istrinya sendiri yang begitu setia. Istrinya tidak mau diajak pindah ke rumah baru yang dibelinya dari hasil korupsi. Meskipun setelah dijebloskan ke dalam buih, ahirnya istrinya kembali mennemui dirinya. Dirinya pun insyaf, dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.

Dalam novel ini, pramudya ingin menggambarkan kebobrokan moral yang ditinggalkan kaum orde baru. Lebih spesifik lagi, dia ingin mengangkat fenomena korupsi yang menjamur di pelbagai lapisan pemerintahan. Bahkan—di dalam cerita ini—digambarkan  seorang yang dulunya, semenjak muda, memiliki prinsip idealis menentang segala macam kebusukan moral dan sosial, ikut terseret ke dalam arus korupsi yang sudah mendarah daging di tatanan masyarakat kala itu.

Kebobrokan moral itulah yang menjadi poin utama kritik Pramudya terhadap golongan tua—orang-orang ORBA. Tingkah laku golongan tualah yang menyebabkan kesengsaraan bangsa kita. Kebusukan mental telah menutupi matahati mereka untuk melihat masa depan anak-cucu bangsa ini. Seandainya mereka punya mental ksatria yang membaja dan memiliki keberanian, tentu kesengsaraan tidak akan menimpa generasi setelahnya. Itulah penyesalah yang selalu didengungkan Pramudya, tidak hanya dalam novel ini, tapi di novel-novelnya yang lain.

Pertentangan ideologi yang terjadi di dalam novel ini dan yang ingin disampaikan Pramudya—berdasarkan pengamatan saya—adalah pertentangan antara golongan tua dan golongan muda. Yang dimaksud golongan tua adalah antek-antek ORBA, sedangkan golongan muda adalah para mahasiswa yang berusaha meruntuhkan kebobrokan etika dan mental golongan tua. Hal itu terlihat dari penggambaran Pramudya terhadap ajudan si tokoh utama.

Setelah si ajudan mengendus kelakuan si tokoh yang selama ini dibanggakan dan dikagumi, dengan perubahan sikap yang nampak aneh dari kebiasaannya, dia berusaha mengingatkan dan memberitahu bahwa perbuatannya tidak akan bertahan lama. Dia mengecam bahwa perbuatannya akan segera diendus oleh aparat, dan akan membawanya ke dalam buih. Akan tetapi, si tokoh tidak lagi memperhitungkan omongan ajudannya. Kedua matanya telah hijau dengan tumpukan uang yang akan diraupnya dari hasil korupsi, jumlah yang tidak sedikit.

Akan tetapi, dengan kemunculan generasi muda, penyakit masyarakat yang sudah begitu parah dapat dilibas. Idealisme mereka untuk membentuk sebuah bangsa yang bersih dan bebas korupsi terus diperdengungkan, disertai dengan perlawanan dan demonstrasi. Dan ahirnya, si tokoh pun terkena garukan aparat dan mendekan di dalam buih akibat ulah dan tindakan amoralnya kepada seluruh masyarakat dan bangsa ini.

Inilah memoar yang masih tersisa di dalam otak karena sudah lama buku ini saya baca serta saya kembalikan ke perpustakaan. Dan baru sekarang saya sempat merampungkan resensinya tanpa didampingi bukunya.

Iklan
Posted in: Me and Books