Sarapan pagi

Posted on Januari 2, 2010

0


Kurangkul sebah buku dari kertas buram

kukalungi sedikit coretan-coretan pena

yang entah melahirkan makna atau memburukkan rupa

bertemankan dua gelas minuman ;

teh susu hangat dalam gelas kaca dan

susu purih hangat dalam sebuah gelas alumunium,

serta sebuah roti gandum yang mengiringi laju minuman

semenjak dari mulut melewati kerongkongan

lalu masuk ke dalam perut

mengganjal sedikit rasa perih karena tak dijejali nasi

sejak makan siang kemarin

kududuk dengan menumpukan kaki

pada kursi yang telah sobek

sehingga busanya melet ; menjulur seperti lidah yang keluar

kubelai-belai buku dengan tangan kasarku

kukuliti dengan otak yang tak seberapa

dari ujung kepalanya dan rencananya sampai pada ujung kakinya

tapi, tiba-tiba otakku digoda tarian puisi

dan kututup buku yang baru kuciumi wajahnya

dengan pemahaman yang tak seberapa

kutusukkan pelupuk mata pada kaca putih berdebu

menembus jauh ke langit biru yang keputihan

sementara, sebuah bendera lusuh karena asap dan debu

berdiri melambai-lambai lemah tak terbalas

kembali kuseret mata ke dalam kamar

memandangi buku di atas meja kayu

dengan pisau, gelas kosong, cabai, pemanas,

bawang merah, bawang putih, serta bumbu-bumbu

di dalam bungkusan plastik putih.

Dan di depan jendela, berdiri botol-botol air minum,

wadah gula, cermin, bungkus susu, dan zabadu

serta sebotol minyak kayu putih dengan kepala merah tersayat.

Semuanya hening tak bicara

kutolehkan kepala ke sebelah kanan

“sialan, bedebah”

ratusan buku telah berjajar rapi

mata-matanya garang memelototiku duduk menulis puisi

untung saja tiada bermulut sehingga ku khidmat melahirkan puisi

andai bermulut, mereka pasti berujar menggangguku;

“damn” “shit” “fuck” bastard”

“yâ hayawân” “ya ibnal kalb” “ya himâr”

“sialan” “anjing” “jancuk” “asem”

dan kalimat-kalimat lain dengan bahasa yang mereka pahami

karena, telah lama mereka kubeli, kutaruh di atas rak yang begitu sederhana

tanpa plitur tanpa kaca

kukurung dalam kamar kecil, tanpa cat tanpa hiasan

tanpa apa-apa

tak sekalipun mereka kujamah;

kupahami isi hati, kudengarkan keluh-kesah, kutanggapi asa dan harapannya

sementara kutengok ke sebelah kiri

sebuah monitor berdiri di atas meja merah berkaki putih

didampingi CPU membokongi,

menatap kasur busa yang telanjang, sprei, dan selimut

yang belum sempat terlipat

selepas membentengi tubuhku dari rayapan musim dingin yang mengganggu

di sebelahnya tumpukan buku dan kamus tertidur di atas meja kayu

belum sempat kubangunkan tuk kucumbui dengan akalku

dan kugelitiki dengan matahati

sehingga sampai saat ini aku belum memiliki anak-anak di dalam otak

yang sanggup mengayomi perjalananku yang masih panjang

sarapanku sosiologi pagi ini pun tak jadi

karena hatiku digoda puisi

231209

Iklan
Posted in: Poem and Poetry