Makan malam

Posted on Januari 5, 2010

0



telah kukuliti tiga butir telur rebus

sampai dagingnya yang putih susu

dapat kurasakan ; sintal dan empuk

dan telah kuciumi mulut gelas kaca

yang berliur manis kemerahan

sambil mengemut potongan lemon dan sebuah teh celup

yang tali dan gantungan merknya melet keluar mulut

kuseduh liur manis yang kemerahan itu

setiap kali kuciumi bibir gelas sampai ahirnya

kerontang, kering meninggalkan potongan lemon dan teh celup

terkapar sendirian

kuayunkan tangan, merangkul sebuah buku

yang semenjak kemarin belum selesai kusetubuhi

dan malam ini rencananya akan kuciumi bagian perutnya

dengan penaku yang biru

lalu kutandai titik-titik vitalnya

agar nanti tak perlu kudeteksi seluruh bagiannya

jika hasrat menciumnya lahir kembali.

tapi, tiba-tiba wajah kekasihku melambai-lambai di kedua mataku

menari-nari, mengajak kepalaku mengukur lebar senyumnya,

menyelami dalam lesung pipitnya, mengasah tajam tatapan matanya,

mengikuti irama glesturnya, menghitung aksen suaranya,

serta menotasi pita suaranya.

sementara, Iwan Fals menggonggongkan kemesraannya

dari dalam komputer yang membokongiku

melemparkan otakku yang sedang asik melukisnya

bersama bayangannya ke tepian pantai

dimana dia pernah bermimpi duduk mesra denganku

mengatupkan tangan dengan tangan

menarungkan bibir dengan bibir

mengadukan hidung dengan hidung

menusukkan mata dengan mata

dan mempertemukan hati dengan hati.

kubuang kembali tatapan mata pada buku yang buram

“Sialan.” Celetukku.

menu makan malamku sosiologi kali ini

tersembunyi di balik wajah kekasihku.

271209

Posted in: Poem and Poetry