Filsafat islam;Eksistensi, penamaan dan faktor pemicu kemunculannya

Posted on Februari 26, 2010

0


Pengenalan

Bertolak dari karakteristik filsafat yang merupakan sebuah fenomena humanis, maka tidak ada suatu masyarakat pun yang tidak melakukan kegiatan filsafati, tanpa memandang besar kecil serta dalam maupun dangkalnya kegiatan tersebut, di dalam kehidupan mereka. Makna kehumanisan filsafat berarti bahwa filsafat adalah hal yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia sebagai seorang “manusia” tanpa memandang batasan teritorial, waktu, agama, maupun batasan-batasan lain yang membatasi eksistensi manusia. (baca: A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah fi al-Masyriq). Di mana pun ada manusia di sana pasti ada kegiatan berpikir, karena secara fitrah, dia diciptakan dengan dibekali akal yang memiliki fungsi pokok untuk berpikir.

Dari sinilah dapat kita katakan bahwa pemikiran filsafati tidak hanya ada, dimiliki dan terbatas pada masyarakat Yunani atau orang-orang Eropa an-sich, tanpa masyarakat yang lain. Pemikiran filsafati ada di setiap masyarakat, baik di dalam masyarakat Yunani, Eropa, Asia, Afrika, masyarakat Kristen, Hindu, Budha, dan juga masyarakat Islam.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap kelompok masyarakat tersebut memiliki filsafat tersendiri, tanpa memandang keaslian dan keterpengaruhannya dengan filsafat kelompok masyarakat lain. Karena proses akulturasi peradaban antar kelompok masyarakat, tidak dapat dipungkiri, pasti terjadi bagaimana pun bentuk dari akulturasi tersebut; apakah peradaban asli akan kalah oleh peradaban pendatang, atau peradaban pendatang yang akan tunduk terhadap peradaban asli, atau mungkin keduanya saling berkomunikasi dan melahirkan sebuah peradaban baru yang merupakan campuran dari keduanya.

Islam, sebagai sebuah kelompok masyarakat, juga memiliki pemikiran filsafati yang kemudian dinamai dengan filsafat islam. Penamaan “filsafat islam” muncul belakangan. Artinya, frasa ini tidak terdapat dalam masyarakat islam terdahulu atau masyarakat islam awal.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penamaan tersebut kemudian mengundang kontroversi. Filsafat islam seolah-olah adalah sebuah frasa yang saling bertolak belakang. Filsafat berarti pemikiran yang bebas tanpa dibatasi oleh pagar agama dan lain sebagainya. Sementara islam berarti berafiliasi, tunduk, taat, dan patuh pada agama Islam. Dari dua kata tersebut, terbentuklah sebuah pertanyaan; bagaimana mungkin terdapat sebuah filsafat rasionalis murni dan di waktu yang sama disebut filsafat islam? Sedangkan makna filsafat islam adalah filsafat yang dibatasi dengan kerangka dan lingkup islam.

Akan tetapi, kita dapat mencounter statemen tersebut dengan mengatakan bahwa setiap manusia, siapa pun orangnya, tidak dapat terlepas dari faktor-faktor dan hal-hal lain yang membentuknya. Faktor-faktor itulah yang memberikan manusia pengetahuan serta kemampuan berpikir. Hal ini berlaku dalam setiap filsafat, tidak terkecuali filsafat Yunani. Aristoteles, paus filsafat Yunani, tidak bisa melepaskan diri dari pelbagai pengaruh yang ada di sekitarnya. Dalam hal ketuhanan, dia terpengaruh dengan keyakinan rakyat Yunani yang ada kala itu. Melepaskan diri dari segala pengaruh adalah hal yang mustahil, tidak mungkin sama sekali. Dengan begitu, frasa filsafat islam tidaklah merupakan frasa yang saling bertolak belakang. (baca: A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah fi al-Masyriq).

Orang islam, tatkala berfilsafat, tidak menanggalkan pengaruh lingkungan dan islam yang telah ada di dalam jiwa mereka. Akan tetapi mereka berusaha mengokohkan kaidah-kaidah agama dengan logika islam serta berusaha menjadikan filsafat sejalan dengan agama. Mereka berusaha membuktikan kebenaran agama sekaligus filsafat.

Oleh karenanya, islam bukanlah penghalang bagi mereka untuk berpikir. Justru islam membantu mereka untuk senantiasa berpikir.

Selain perdebatan masalah kontradiksi makna frasa “filsafat islam”, penamaan filsafat yang lahir di dalam masyarakat islam dengan sebutan filsafat islam pun juga menjadi poin perbedaan di antara kalangan sejarawan.(baca lebih lanjut: A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah fi al-Masyriq)

Salmon Munk, Emile Brehier, dan Carlo Nallino, dari kalangan orientalis dan Ahmad Lutfi as-Sayyid dari kalangan sejarawan arab, berpendapat bahwa filsafat ini lebih cocok dinamai dengan filsafat arab.

Argumen mereka terangkum dalam dua hal, pertama, jika filsafat tersebut dinamai dengan filsafat islam, akan mengesampingkan pemikiran filsuf non-muslim yang punya andil di dalam filsafat ini. Kedua, penamaan filsafat arab merupakan penamaan yang pas dan sesuai dengan realita karena karya-karya para filsuf ini tertulis dengan bahasa arab.

Pendapat kedua, filsafat ini layak dan pas jika dinamai dengan filsafat islam. Di antara yang menyatakan demikian adalah tokoh orientalis semisal Horten dan De Boer. Sedangkan dari pemikir arab diwakili oleh Ibrahim Madkour dan Musthafa Abdul Razik.

Menurut Musthafa Abdul Razik, penamaan filsafat islam adalah penamaan dari para filsufnya sendiri. Oleh karena itu, tidak dapat diganti dengan nama lain dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dinamakan filsafat islam karena tumbuh di dalam islam dan di bawah naungan negara islam tanpa memerhatikan agama dan bahasa mereka.

Sedangkan Ibrahim Madkour mengungkapkan bahwa filsafat tersebut dinamakan filsafat islam karena islam tidak hanya akidah saja, melainkan juga peradaban. Dan setiap peradaban memiliki khidupan etika, materi, pemikiran, dan emosional tersendiri. Maka dari itu, filsafat islam adalah semua tulisan tentang studi filsafat yang terdapat di tanah islam baik itu dari hasil pena kaum muslimin maupun yahudi dan nasrani.

Ada pula yang berpendapat bahwa filsafat ini laiknya dinamakan dengan filsafat islam arab, seperti dikatakan oleh penulis buku Târîkh al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islâmiyyah, Abduh asy-Syamali. Alasannya, agar mencakup filsafat yang ditulis dengan bahasa arab dan juga filsafat yang ditulis dalam naungan islam.

Selain tiga nama di atas, ada juga yang menamakannya dengan filsafat di dalam islam atau filsafat di dunia islam. Hanya saja penamaan ini terlalu panjang dan tidak pas.

Dan yang paling tepat dari keempat nama itu adalah filsafat islam. Karena, unsur yang paling berpengaruh di dalam filsafat ini adalah islam. Selain itu, filsafat ini juga mencakup unsur-unsur Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Para punggawa filsafat ini berusaha menyinergikan antara unsur Yunani dan unsur islam. Mereka mengakulturasikan pemikiran-pemikiran tersebut ke dalam frame baru yang dinamakan dengan filsafat islam.

Faktor-faktor pemicu kemunculan filsafat islam

Ali Sami Nasyar, dalam bukunya, Nasy`atu al-Fikri al-Falsafî Fî al-Islâm, membagi faktor pemicu pertumbuhan filsafat islam ke dalam dua bagian utama; faktor eksternal dan faktor internal. Di antara kedua faktor tersebut, yang memiliki andil lebih besar terhadap kelahiran filsafat islam adalah faktor pertama. Mengapa demikian? Karena islam tidak mendorong berdirinya aliran filsafat metafisika. Metafisika islam adalah metafisika qur`an dan hadits. Artinya, metafisika dalam islam adalah masalah tauqîfiyyah, mengikuti dan mematuhi apa yang telah digariskan al-Qur`an dan al-Hadits, tidak boleh melampaui atau pun keluar dari apa yang telah digariskan keduanya. Maka dari itu, akal tidak memiliki andil sama sekali dalam masalah metafisika.

Islam memang tidak mendukung adanya metafisika, hanya saja para pengikut islam sendirilah yang mendirikan aliran filsafat metafisika tersebut. Dengan munculnya aliran filsafat metafisika dari kalangan ulama islam, maka islam menjadi terkelompokkan menjadi dua sekte. Pertama, para penafsir dan komentator metafisika, mereka melakukan kegiatan pemikiran besar dalam rangka mengokohkan metafisika al-Qur`an dan menjelaskannya. Kedua, kaum salaf, mereka menilai bahwa orang-orang yang berkecimpung dalam masalah metafisika telah terjerumus ke dalam jalan yang salah. Untuk itu, lebih baik menjauhinya. Karena, metafisika hanya akan mengakibatkan kebingungan dan bid`ah atau kesesatan dari metafisika ketuhanan yang pada ahirnya akan menimbulkan kerusakan pada masyarakat. Perseteruan antara kedua sekte ini dimenangkan oleh kelompok pertama, meskipun kelompok kedua juga masih memiliki nilainya tersendiri. Anehnya, para pengikut salaf sendiri, meski mereka mengingkari ilmu kalam, memiliki aliran kalam dan filsafat.

Ringkasnya, islam tidak mendukung adanya penafsiran metafisika. Akan tetapi, penafsiran tersebut telah timbul di kalangan para pemeluknya. Oleh karenanya, bisa dinilai bahwa ada faktor eksternal yang memicu munculnya metafisika.

Yahudi

Sebelum islam datang, Yahudi tidak memiliki orisionalitas pemikiran dan filsafat sama sekali. Tidak ada tali akal maupun pemikiran yang menyatukan mereka selain mengimani Taurat dalam kesamar-samaran. Mereka adalah para masyarakat yang sangat tertutup hingga datang islam membawa tauhid baru.

Dengan datangnya islam, keyakinan-keyakinan Yahudi diperangi, terutama keyakinan mereka bahwa agama hanya khusus bagi bani Israel saja. Selain itu, islam juga memerangi kitab mereka yang telah dirubah dan diganti dari aslinya.

Perseteruan dalam masalah-masalah prinsipil dalam kedua agama itulah yang ahirnya menjadikan karakter dan metodologi keduanya berbeda, yang pada perkembangannya, perbedaan-perbedaan itu memiliki andil di dalam kemunculan dan pertumbuhan filsafat islam.

Nasrani

Perdebatan antara islam dan nasrani juga turut andil dalam pembentukan filsafat islam. Perdebatan antara keduanya dimulai di Habasyah mengenai hakikat al-masih, mengenai “kalimat Allah” atau nabi Isa, serta hal-hal lain seputar akidah serta keyakinan islam terhadap al-masih. Dan dengan semakin berkembangnya islam di pelbagai kawasan seperti di Syam, Irak, dan Mesir, nasrani mulai memusuhi pemikiran-pemikiran islam, yang sangat bertentangan dengan akidah mereka, lebih keras dari hanya sekadar perdebatan kecil-kecilan.

Islam dan kristen memiliki pemahaman-pemahaman tersendiri mengenai al-masih, isa, serta akidah-akidah yang lainnya. Dari sanalah pemikiran filsafat hakiki di dalam islam dimulai karena objek dan prinsip-prinsipnya mulai mengerucut ke dalam objek perbedaan yang diperdebatkan. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa nasrani juga memiliki tangan terhadap lahirnya filsafat islam di kalangan kaum muslimin.

Filsafat yunani

Di antara faktor yang mendorong tumbuhnya filsafat islam adalah filsafat yunani. Inti filsafat yunani sangat berseberangan dengan filsafat islam. Oleh karena itu, tatkala islam ingin menerapkan filsafatnya yang menggambarkan peradabannya dan berhubungan dengan struktur sosialnya, tidak bisa terelakkan terjadinya perbedaan yang sangat mencolok, perdebatan yang amat sengit, serta metodologi dan materi yang saling bertentangan antara keduanya.

Perseteruan antara filsafat islam dan filsafat yunani itu terjadi setelah islam mulai mengenal filsafat yunani, tepatnya setelah terjadi gerakan penerjemahan buku-buku yunani ke dalam bahasa arab di masa Al-Mansur khalifah Abbasiyah dan pada masa kejayaannya di masa Al-Makmun.

Gnostisisme timur

Selain yahudi, nasrani, dan filsafat yunani, tumbuhnya filsafat islam juga tidak terlepas dari aliran gnostik di daerah timur seperti Irak dan Iran. Aliran ini juga mencoba menghancurkan struktur islam sejak islam berhasil memorak-porandakan kepercayaan dan ritual aliran ini.

Aliran ini termasuk aliran yang sangat destruktif dalam menentang islam dengan pedang, dan tulisan. Pengaruh aliran ini masih ada sampai sekarang, yaitu dalam aliran syi’ah garis keras, Ismailiyyah, dan Baha`iyyah.

Selain faktor eksternal di atas, lahirnya filsafat islam juga diakibatkan oleh faktor internal yang tercermin dalam;

Faktor bahasa

Karakteristik bahasa arab yang acap kali memiliki kandungan makna lebih dari satu juga menjadi salah satu faktor lahirnya filsafat islam. Kandungan multi-interpretasi al-qur`an maupun hadis menyebabkan adanya perbedaan paradigma dan pemahaman teks, sehingga tidak mengherankan jika hal itu mengakibatkan munculnya pelbagai terma seperti af’âlul ‘ibâd; apakah dihasilkan manusia ataukah ciptaan Tuhan,  manzilah baina manzilatain, serta amar ma’ruf nahi munkar dan persoalan-persoalan lain yang menjadi bahasan para filsuf dan mutakalimin di dalam kerangka pemikiran filsafat.

Perbedaan interpretasi tersebut tidak hanya bersinggungan dengan para ahli kalam saja, akan tetapi para ahli fikih pun juga merasakan dampak dari multi-makna dan interpretasi bahasa tersebut. Ahirnya, hasil pemahaman tiap orang membentuk metodologi dan penafsiran tersendiri yang memperkaya pemikiran islam.

Faktor politik

Setelah Rasulullah saw. wafat, perpolitikan kaum muslimin terombang ambing. Masalah kekhalifahan menjadi penyebab utama terpecah-belahnya kaum muslimin ke dalam berbagai aliran. Setiap aliran mencoba menerapkan kaidah dan keyakinannya. Akhirnya banyak sekali muncul aliran-aliran dalam keagamaan seperti syi’ah, murji’ah, khawarij, dengan berbagai cabang yang ada di dalamnya.

Keguncangan politik itulah yang ahirnya mendorong kaum muslimin untuk berfilsafat dalam rangka mebela kepercayaan masing-masing aliran dari ancaman dan mengokohkan apa yang mereka yakini kebenarannya.

Faktor ekonomi

Faktor ekonomi juga merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang turut serta melatarbelakangi lahirnya filsafat islam. Isalam telah menjelaskan panjang lebar mengenai prinsip keadilan ekonomi di dalam lingkungan masyarakat islam.

Akan tetapi, pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan, kaum muslimin merasa tidak adanya keadilan dalam pembagian harta benda seperti yang telah digariskan oleh islam. Perasaan itulah yang ahirnya mendorong munculnya syi’ah serta banyak kaum muslimin yang berpaling kapada Ali bin Abi Thalib yang menyamakan antara orang kaya dan orang miskin.

Munculnya filsafat islam, tidak bisa terlepas dari kedua faktor tersebut, faktor eksternal dan internal. Keduanya memiliki andil dalam kelahiran dan kemunculan filsafat islam, meskipun yang lebih dominan adalah faktor eksternal.

Dan tidak bisa dipungkiri, bahwa islam memiliki orisinalitas pemikiran filsafat meskipun pemikiran tersebut terpengaruhi secara garis besarnya oleh islam sebagai agama yang mereka anut. Dan memang ciri utama filsafat islam adalah penyinergian antara ajaran islam dan filsafat-filsafat yang masuk ke dalam masyarakat islam.

Daftar pustaka

-an-Nasyar, Ali Syami. 2008. Nasy`ah al-Fikr al-Falsafî Fî al-Islâm. Cairo. Dâr al-Salâm.

-‘Afifi, Jamaludin Husain. 1998. A’lâm al-Falsafah al-Islâmiyyah Fî al-Masyriq. Cairo. Dâr ath-Thibâ’ah al-Muhammadiyyah.

-Abdurrazik, Musthafa. 2007. Tamhîd Li Târîkh al-Falsafah al-Islâmiyyah. Cairo. Al-Hai’ah al-Misriyah al-‘Âmah Li al-Kitâb.

Posted in: makalah