Pelukis Bulan

Posted on Juni 24, 2010

0


Malam ini bulan tampak terlihat aneh. Tidak seperti biasanya. Dari jendela kamar yang hanya berukuran 3×2,5 meter kuperhatikan benar-benar wajah bulan yang menggantung di kehitaman langit. Kulongokkan kepala tepat di mulut jendela sambil menyandarkan kedua tangan di meja yang menempel dengan jendela, menyangga badanku yang sedikit lesu.” It’s a great moment!” Teriakku setelah kupastikan wajah bulan kali ini akan menyilaukan ketas gambarku dan menyihir mata-mata yang membaca buku lukisan sederhanaku.

Cepat-cepat kupalingkan wajah mencari pensil, buku gambar, dan papan kayu yang selalu kujadikan senjata untuk mengurung bulan. Setelah semua peralatanku berada di genggaman tangan, kuintip kembali bulan dengan wajah sumringah. “Tunggu sebentar, aku akan datang mengabadikan wajahmu malam ini.” Kutinggalkan bulan terkurung bidang empat jendela kamarku, tak bisa berkutik kemana-mana.

Sementara aku berjalan menuju balkon, tempat yang biasa kubuat melukis, bulan menyebarkan ranum pendarnya yang keemasan kepada langit yang hitam. Menjadikan malam ini benar-benar bernyawa bagi diriku sebagai pemuja malam. Selain itu, dia juga memberi hiburan pada ribuan bintang yang mengitarinya. Melahirkan secercah senyum pada setiap kerdipannya. Menciptakan nuansa romantis tersendiri yang jarang sekali kudapatkan. Sayang jika harus terlewatkan begitu saja.

Aku memang hanya seorang yang punya hobi melukis. Terutama melukis suasana malam. Bulan, bintang, langit kelam, meteor, dan berbagai raut wajah malam telah memesonaku. Memaksaku memasung deretan waktu untuk menyumbui dan mengabadikan wajahnya meski hanya dalam selembar kertas gambar. Bermacam wajah bulan telah mengabadi dalam setiap petak buku gambarku. Bulan sabit, bulan separoh, maupun bulan purnama. Hanya saja kesemuanya kulukis dengan sebatang pensil di atas kertas gambar, bukan cat dan kuas di atas kanvas.

Bukannya sombong, lukisanku memang lumayan bagus. Jemariku lentur dan hidup. Goresan pensilku membelai lembaran kertas dengan halus dan licah. Tak menyisakan kejanggalan yang menggoda mata meluncurkan kerdipan kritik saat melihatnya. Teman-temanku mengakui keindahan lukisan karyaku. Tidak hanya teman, bahkan ada seorang seniman yang pernah berkomentar setelah melihat hasil lukisanku, “Jika saja kamu punya nama, ini semua akan memiliki harga.”

Sebenarnya, aku dulu hendak kuliah di seni lukis. Mengembangkan hobi dan kegemaran yang telah melekat kuat di dalam diriku. Akan tetapi, itu semua harus kukalahkan karena orang tua dan keluargaku menghendaki agar aku belajar di luar negeri. Di sini, negeri para nabi. Mereka mengingikan aku mendalami ilmu agama. Karena ingin bisa membahagiakan kedua orang tua yang telah mencurahkan segala kasih dan sayang yang takkan dapat kubalas dengan apa pun, aku memutuskan untuk mengikuti apa yang mereka kehendaki. Sama sekali tak ingin menorehkan kekecewaan di hati mereka walau hanya setitik . Dan mungkin hanya itu yang bisa aku berikan sebagai balasan kasih sayang yang selama ini mereka curahkan. Sebagai bakti anak kepada orangtua.

Sejak itulah, aku mulai merubah orientasi hidupku. Idealisme dan impian menjadi seorang pelukis harus aku tanggalkan dan kuganti dengan mempelajari disiplin ilmu ke-akhirat-an. Dan memang inilah tempatnya untuk menggali dan mengeksploitasi ilmu itu besar-besaran. Di sebuah yayasan perguruan tinggi yang telah berumur lebih dari seribu tahun. Yang telah menetaskan tokoh-tokoh kharismatik yang namanya tersohor di belahan dunia barat dan timur.

Meskipun yang aku dalami sekarang adalah ilmu-ilmu ke-akhirat-an, hobi melukis yang aku punyai tidak kutenggelamkan begitu saja. Aku masih sering mengekpresikannya dengan caraku sendiri. Karena aku masih meyakini kalau menjadi seorang pelukis tidak berarti harus belajar di jurusan lukis. Itu bukan jaminan. Seperti halnya menulis, masuk jurusan sastra maupun jurnalistik tidak menjamin seseorang bisa menjadi penulis. Yang sering menciptakan keberhasilan dalam menulis maupun melukis adalah hobi yang selalu dipupuk-kembangkan. Berapa banyak penulis lahir tidak dari rahim pendidikan kepenulisan? Berapa banyak pula pelukis yang lahir dari jalanan tanpa pendidikan?

Karena sekadar ingin mengekspresikan hobi, aku melukis dengan menggunakan sebuah pensil dan kertas gambar. Bukan karena aku tak mampu membeli kanvas dan cat air. Uang saku bulananku lebih dari cukup untuk membeli itu semua jika aku menginginkannya. Aku sadar, melukis bagiku sekarang hanya sebuah hobi yang tak perlu menggunakan peralatan lengkap. Yang harus aku utamakan adalah belajar dengan benar-benar agar selesai kuliah tepat waktu.

Keluargaku bisa dibilang orang kaya. Orangtuaku adalah seorang wiraswasta yang sukses. Selain memiliki perusahaan garmen, keluarga kami memiliki beberapa kios pakaian yang sudah terkenal. Kios itu pun memunyai banyak cabang di beberapa kota. Rumah kami adalah villa cukup luas dengan desain seni eropa yang memukau. Tembok yang mengelilingi rumah kami setinggi dua setengah meter sehingga tidak mengundang orang luar mencuri harta benda yang kami miliki. Tidak membuat mereka iri dan dengki. Gerbang depannya juga setinggi tembok yang mengitari rumah, terbuat dari besi dan ditutup dari dalam dengan fiber glass yang tebalnya dua milimeter. Hanya dilobangi sekotak kecil ukuran 10×10 centimeter di sebelah gembokannya. Di belakang gerbang ada pos satpam, seorang satpam tiap hari ada disana. Menjaga rumah dan membukakan pintu gerbang saat keluarga kami keluar masuk rumah. Di bagian belakang villa terdapat kolam renang yang cukup luas.

Aku duduk berhadapan dengan bulan dan bintang-bintang, mereka tak henti-henti memandangiku. Tak berkedip sama sekali. Padahal aku telah beberapa kali mengedipkan kelopak mata. Mereka barangkali tahu kalau aku sedang mengabadikan wajahnya. Kutatap bulan lalu kupindahkan ke dalam kertas gambar di pangkuanku melalui mata pensil yang lancip. Dan begitulah kuhabiskan malam dengan bulan, kutatap wajahnya lalu kupindahkan ke dalam kertas melalui mata pensil kayu di tanganku. Jemari tanganku terus menggoyang-goyangkan pensil di genggamannya, hingga ahirnya di kertas gambarku terdapat bulan, bintang-bintang, dan langit yang kelam.

Kurebahkan bahu yang telah dirambati kelelahan ke belakang, ke sandaran kursi yang dari tadi kuzalimi tanpa permisi. Lalu menggeliatkan badan, mengusir lelah, menguapkannya ke udara malam yang sejuk. Mataku tak sabar ingin segera melihat bulan, bintang, dan kelam malam yang telah kupasung dalam secarik kertas gambarku. Sayangnya, setelah mataku meraba lukisan itu, terasa ada keanehan yang tiba-tiba muncul.

“Mengapa lukisan bulanku pucat sekali?”

Aku mencoba mengucek-kucekkan kedua tangan pada kedua mataku. Mungkin aku kelelahan dan mengantuk, sehingga lukisan itu kelihatan pucat dan pasi. Akan tetapi lukisan itu tetap tak berubah, pucat dan pasi. Lalu aku mendongak, memandangi bulan yang menggelantung di kegelapan langit. Aku tambah terkaget.

“Hei, mengapa wajahmu sedih seperti itu?”

Tak kudapatkan jawaban apa-apa, bulan tetap diam dalam kesedihannya. Kekecewaan mulai merambati perasaanku.

“Mengapa kau rusak lukisanku?”

“Bukankah tadi, pertama kali kulihat, kau tampak sumringah?”

“Apa yang membuatmu sedih?”

Hanya keheningan yang sejenak menjawab, tak sepatah kata pun kudengar. Bulan tak peduli sama sekali pada pertanyaanku. Aku menyesal, hasil lukisanku tak bercahaya. Dan aku bisa memastikan lukisanku tak sanggup menyihir mata-mata yang meliriknya nanti. Aku berdiri, ingin masuk dan tidur. Rasanya sia-sia aku melukis dari tadi, hanya menghasilkan penyesalan. Sebelum masuk, kutoleh jalan yang telah sepi dari kendaraan.

“Oo, hanya karena itukah kau bersedih?”

Kutatap bulan dengan pertanyaan itu. Menghardik kecengengannya yang terlalu.

“Kau kasihan pada perempuan tua kumal, berkursi roda, dan tak berumah itu!?”

“Tolol sekali kamu, jaman sekarang orang seperti itu bertebaran dimana-mana. Jangan kau pedulikan!”

“Bukankah kau bisa melihat rumahku yang besar dan indah? Bergaya eropa, dan di dalamnya terdapat kolam renang?”

“Lihat saja rumahku yang indah, biar ranummu tak pudar dan wajah cantikmu tak lagi pucat!”

Cairo, 3 Agustus 2008

Posted in: cerpen