Epos

Posted on Oktober 21, 2010

2


Aku sangat salut kepada kakak perempuanku, kak Restu. Kekagumanku bukan karena apa, melainkan wataknya yang sangat berbeda dengan kakak-kakak perempuanku yang lain.

Kami sebuah keluarga besar, terdiri atas sepuluh saudara. Sayangnya, satu di antara kami meninggal saat umurnya belum genap sepuluh tahun. Namanya kak Burhan, kakak tertua kedua setelah kak Retno. Dari sembilan saudara, empat di antaranya adalah perempuan dan sisaya laki-laki. Hanya seorang dari empat saudara perempuanku yang umurnya lebih muda dariku.

Kak Restu, berdasarkan urutan kelahiran, adalah kakakku termuda. Umurnya tiga tahun lebih tua dariku. Kalau aku sekarang berumur 20, maka umurnya 23.

Kak Restu, selain berwajah ayu, juga berotak cerdas. Sejak SD sampai SLTA selalu menyabet peringkat tiga besar di kelasnya. Bahkan di SD, dari kelas satu sampai kelas enam, tak pernah beralih dari rangking satu. Tak seorang pun pernah menggantikan posisi peringkatnya. Ketika ujian ahir SLTP, pelajaran matematikanya mendapat nilai sepuluh. Sedangkan nilai pelajaran yang lain rata-rata delapan dan sembilan. Nilai tujuh hanya ada pada dua mata pelajaran saja. Dengan kepandaiannya itu, wajarlah dia bisa diterima di SLTA favorit di kota kelahiran kami. Setelah lulus, dia melanjutkan di salah satu universitas negeri fakultas MIPA.

Hal yang paling membuatku salut pada kak Restu adalah sikapnya yang sangat pemberani. Sikap pemberani yang ada di dalam diri kak Restu tidak dimiliki saudara-saudaraku yang lain, termasuk aku sendiri dan saudara laki-laki kami yang lain. Padahal, secara fisik dia kalah jauh dari yang lain. Badannya kecil, pendek, sedikit kurus.

Keberanian itu mulai muncul dari dalam jiwa kak Restu sejak menginjak usia dewasa. Tepatnya semenjak duduk di bangku perkuliahan. Perbedaan sikapnya kentara begitu jelas setelah dia berhasil memasuki jenjang perkuliahan. Padahal, sebelum kuliah tak nampak sedikit pun dari jiwanya pancaran keberanian yang begitu agung. Keberanian yang tiba-tiba datang melukis warna baru dalam diri kak Restu.

Memang, acapkali lingkungan mengulurkan andil cukup besar dalam merubah sikap dan tingkah-laku seseorang. Apalagi lingkungan perkuliahan yang mewadahi heterogenitas warna. Ditambah lagi usia yang masih dalam tahap peralihan menuju dewasa. Usia yang masih labil. Mudah sekali berubah-ubah mengekor pada idealisme yang digantungkan di kepala mereka. Dan bukan hal yang aneh jika kita melihat seorang yang agamis dan santriis tiba-tiba saja berubah menjadi oportunis dan komunis setelah menjalani hidup di perkuliahan. Sebaliknya, seorang abangan yang tak kenal agama sama sekali dapat berubah menjadi agamis radikalis setelah melakukan interaksi di lingkungan perkuliahan. Itu baru dua contoh perubahan. Masih banyak peruahan-perubahan lain yang mewarnai kehidupan perkuliahan.

Kak Restu, adalah salah satu korban perubahan yang melanda kawasan perkuliahan. Perubahannya memuncak, dia sangat berani melawan zaman dan usia. Padahal, tak pernah ada epos yang menceritakan kemenangan pahlawan melawan masa. Tapi, kak Restu tak pernah peduli. Dia seolah akan memenangkan pertarungan itu. Dia tak menghiraukan kalau perjalanan masa takkan pernah bisa dielakkan dari kehidupan manusia.

Kak restu, menurutku, telah menjadi seorang pahlawan yang tak kenal putus asa. Tak ada di kamusnya kata menyerah dan kalah. Dia terus mengobarkan semangat perlawanan yang tak pernah habis dan tak ada putus-putusnya. Perlawanan sengit yang terus menggelora dari rona wajahnya. Bibir, mata, alis, pipi, serta bulu matanya dipersiapkan dengan sungguh-sungguh untuk mengalahkan masa.

Seandainya sejarah mencatat perjuangannya, tentu dia termasuk dalam golongan pejuang yang ampuh dan tak tertandingi. Dihitung berdasarkan beratnya kekuatan lawan, kak Restu adalah pahlawan nomor satu. Bahkan—menurutku—perjuangan bung Karno dan bung Hatta masih kalah dari perjuangannya. Mengapa? Karena perjuangan para pahlawan hanya sebatas mengusir dan melawan penjajah yang berupa manusia biasa, sedangkan perjuangan kak Restu adalah melawan waktu dan usia. Selain itu, perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu dilakukan bersama-sama. Berbeda dengan kak Restu yang melakukan perjuangan itu sendirian. Tak seorang pun membantunya sama sekali.

Tidak sedikit biaya yang dia keluarkan untuk persiapan peperangannya. Lebih dari sepertiga uang saku yang diberikan ayah setiap bulan habis untuk membeli alat-alat perang yang dibutuhkannya. Keperluan alat-alat perangnya itu bahkan lebih dia priorotaskan daripada kebutuhan perkuliahannya sendiri.

Keluargaku kurang begitu senang dengan sikap kak Restu yang berlebihan. Apalagi orang tuaku, mereka tidak senang melihat anak perempuannya seberani itu. Ayahku pernah menegur sikap kak Restu karena tidak ingin melihat anaknya menyalahi ajaran agama.

“Restu, kamu ini anak perempuan yang belum bersuami. Tak baik berperilaku seperti itu.”

Selain ayah, kak Rasid juga pernah menegurnya. Kak Rasid adalah kakak tertua ketiga di antara saudara-saudara kami. Dia belajar ilmu agama cukup lama di beberapa pondok pesantren.

“Restu, Restu, sikapmu itu akan menimbulkan fitnah. Dilarang oleh agama. Mbok ya jangan terlalu berani.”

Meski pernah ditegur ayah dan kak Rasid, kak Restu tidak juga berubah. Dia tetap berlaku seperti biasa. Karena tegurannya tidak diperhatikan, ahirnya ayahku hanya diam saja membiarkan perilaku kak Restu yang berani. Karena, bagi ayah, dia sudah cukup dewasa untuk mengerti tata-nilai, serta etika moral. Tak perlu dibentak-bentak dan didikte seperti anak kecil. Begitu juga kak Rasid, dia tidak bisa memaksa kak Restu yang tidak menuruti wejangannya. Kewajiban mereka hanya sebatas mengingatkan. Selebihnya, yang diperingati menuruti atau tidak, bukan menjadi tanggungan mereka. Seperti juga Rasul yang hanya ditugaskan untuk menyampaikan ajaran Tuhan kepada kaumnya. Perkara kaumnya beriman atau pun ingkar bukan urusan beliau.

Suatu hari saat lebaran, kami sekeluarga hendak berkunjung ke rumah sanak saudara yang tinggal di lain daerah sekalian menghadiri perkumpulan keluarga besar yang biasa diadakan setahun sekali. Kami sekeluarga rencananya akan berangkat jam tujuh pagi karena jarak perjalanan cukup jauh. Mungkin memakan waktu dua setengah sampai tiga jam. Setelah sarapan dan berdandan, kami semua keluar menuju halaman rumah. Ayah sudah memanasi mobil sejak seperempat jam lalu. Sesaat kemudian semua telah berada di dalam mobil kecuali kak Restu.

“Semua sudah masuk mobil?” Tanya ayahku.

“Tinggal nunggu kak Restu saja yah.” Jawabku berbarengan dengan kedua adikku.

“Riz, panggil kakakmu! Kita mau berangkat sekarang, biar tidak telat.”

“Kak Restu! Ayo kita mau berangkat sekarang.” Teriakku melalui jendela mobil yang terbuka.

“Ya, sebentar lagi.”

Beberapa menit belum juga keluar, ayah menyuruhku menjemputnya di kamar.

“Kak, cepetan! Sudah ditunggu di mobil. Kita akan berangkat sekarang.”

“Iya dik, sebentar. Kakak sudah selesai kok.”
Kak Retno berpaling dari cermin di depannya dan menghadap ke arahku.

“Dik, apa yang masih kurang? Kerudungnya sudah pas kan?”
Gila! Ambisi kak Retno mengalahkan usia dan waktu benar-benar kokoh. Bibirnya merekah merah, pipinya merah jambu, kedua bulu mata dan alisnya hitam warna celak.

“Kak, sekeras apapun perjuanganmu, usia dan waktu takkan pernah bisa kau taklukkan. Bahkan orang secantik Cleopatra pun akan keriput dimakan usia dan digerogoti masa.”
Ucapku mengahiri percakapan kami berdua.

Cairo, 17 Juli 2008

Posted in: cerpen