“DIALEKTIKA MARXIS; Sejarah dan Kesadaran Kelas” Dialektika yang tidak ter-dialektika-kan

Posted on April 6, 2011

3


Membaca judul buku ini, seolah-olah kita akan diantarkan pada ajaran-ajaran filsafat marxisme mengenai kelas-kelas masyarakat secara gambling dan lugas. Sehingga, setelah membacanya kita berangan-angan akan mendapatkan gambaran utuh tentang konsep dialektika antar kelas dalam masyarakat komunis seperti yang ditawarkan Karl Marx.

Apalagi setelah menilik ke dalam daftar isi buku. Banyak tema-tema yang jarang saya jumpai dalam pembahasan marxisme. Dengan kata lain, dengan membaca buku ini akan banyak membuka cakrawala pengetahuan kita tentang marxisme. Kita akan mengetahui apa itu marxisme orthodox, perbedaan marxisme orthodox dengan marxisme Rosa Luxemburg, apa itu kesadaran kelas, bagaimana konsep reifikasi dan kesadaran kelas proletariat, bagaimana perubahan fungsi materialisme historis, apa itu konsep legalitas dan ilegalitas, serta kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada dalam teori Rosa Luxemburg serta tinjauan-tinjauan kritis atas tulisannya.

Tema-tema bahasan yang ditawarkan di dalam daftar isi buku sungguh sangat menggugah hati untuk merogoh kantong. Sehingga mengeluarkan uang empat puluh lima ribu seakan menjadi tidak ada artinya jika dibandingkan dengan wawasan-wawasan yang akan kita peroleh dari buku setebal rmpat ratus halaman ini.

Akan tetapi, pada kenyataannya setelah membaca beberapa lembar halaman depan, pengantar, muncullah pertanyaan; mengapa bahasannya begitu membingungkan? Apakah memang jenis buku ini memang yang sulit untuk dipahami ataukah memang bahasanya yang kurang bisa memberikan pemahaman pada pembaca?

Awalnya, prasangka saya yang muncul adalah bahwa yang sulit dipahami adalah bagian-bagian awalnya saja, sekadar pengantarnya saja. Sedangkan bagian-bagian isi dan pokok bahasannya akan dapat saya mengerti. Paling tidak, pengertian tentang apa itu marxisme ortodok, bagaimana konsep marxisme Rosa Luxemburg dan sejenisnya dapat dipahami dan dimengerti. Minimal mengetahui definisi-definisi itu semua sudah cukup menjadi modal untuk pengembangan wawasan mengenai marxisme.

Namun, semakin jauh membacanya dari halaman ke halaman berikutnya, dari satu bab ke bab yang lain sampai ahirnya selesai membaca buku ini tidak ada sedikitpun gambaran-gambaran konsep maupun definisi-definisi dasar yang dapat saya pahami dan saya mengerti.

Ketidakmampuan buku ini dalam berdialektika dengan pembaca, menjadikan buku setebal ini seakan-akan tidak punya nilai sama sekali. Apakah ketidakmampuan berdialektika itu dikarenakan bukunya yang memang susah untuk dipahami ataukah karena faktor penerjemahannya yang kurang tepat dan kurang pas dalam menerjemahkan karya ini.

Kalau alasannya adalah yang pertama, paling tidak ada yang dapat dipahami dari empat ratus lembar kertas ini. Karena, buku ini tidak ditulis oleh sembarang orang, melainkan oleh George Lucaks sendiri. Dia adalah seorang yang kompeten di dalam membahas karya-karya Karl Marx dan marxisme. Kalau alasan kedua, saya pikir lebih masuk akal. Karena, gramatikal penulisannya sangat tidak jelas. Maksud saya, kita sulit menemukan mana subjek, predikat, maupun objeknya. Karena banyaknya keterangan-keterangan sampingan—anak kalimat yang begitu panjang dan beranak lagi—yang justru mengaburkan pokok kalimatnya.

Ketidakmampuan sebuah buku untuk berdialektika dengan pembaca ini bisa terjadi di dalam buku-buku terjemahan dikarenakan penerjemah yang kurang kapabel dalam mengalihbahasakan sebuah buku atau wacana. Hal itu akan memengaruhi keterbacaan sebuah buku ataupun wacana pada ruang lingkup masyarakat pembaca buku terjemahan tersebut.

Dan yang menjadi anggapan saya mengapa buku ini tidak terbaca atau tidak terdialogkan dengan pembaca dengan baik adalah karena faktor yang kedua ini. Ke-kurangkapabel-an penerjemah dalam menerjemahkan sebuah buku ataupun wacana, bisa disebabkan oleh dua hal.

Pertama, karena penerjemah bukanlah seorang yang berkompeten di dalam membahas tema serta objek kajian naskah atau buku yang diterjemahkan. Ini sangat berakibat pada hasil terjemahan yang tidak komunikatif, dialogis dan bahkan tidak bisa dibaca maupun dipahami pembaca. Kasus-kasus seperti ini sering sekali ditemukan di dalam karya-karya terjemahan. Buku sebagus dan sebaik apa pun kalau diterjemahkan oleh orang yang tidak mumpuni di dalam bidang tersebut, akan mengakibatkan ide penulis aslinya tidak tersampaikan dengan baik dan benar. Sehingga tidak jarang hasil terjemahannya sangat berbeda dengan apa yang diinginkan penulis aslinya.

Kedua, karena tingkat kebahasaannya yang susah diterjemahakan. Maksudnya begini, sebuah kata dalam bahasa tertentu kadang memiliki tingkatan makna tersendiri yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa lain. Hal ini terjadi karena tingkat kekayaan kata bahasa tertentu berbeda dengan bahasa yang lain. Kekayaan kata itu sendiri bisa dilihat dari indicator-indikator yang ada. Misalnya kemampuan sebuah kata untuk mendeskripsikan makna atau maksud tertentu. Suatu bahasa dikatakan kaya akan kosakata apabila bahasa tersebut memiliki banyak kata-kata yang mampu mendeskripsikan sesuatu secara rinci. Tidak menggunakan kata-kata yang umum untuk mendiskripsikan dua hal yang berbeda atau mirip, misalnya.

Seorang penerjemah, meskipun ulung dan menguasai oobjek kajian buku terjemahannya, akan mengalami kebuntuan dan kesusahan ketika menghadapi permasalahan seperti ini. Dia harus memutar otak berkali-kali untuk menemukan kata-kata yang tepat sebagai pengganti kata yang diterjemahkan sehingga dapat dipahami sebagai mana maksud kata itu secara pasti.

Kedua faktor inilah yang acapkali menyandung keterbacaan sebuah buku terjemahan. Ahirnya, mengurangi nilai, kualitas, dan hasil terjemahan tersebut meskipun maksud penulis dalam bahasa aslinya sangat jelas.
Ketika buku “Dialektika Marxis” ini tidak ter-dialektika-kan dengan baik kepada pembaca, dalam tulisan ini saya sendiri, maka yang saya merasakan kerugian ganda. Rugi karena telah mengeluarkan uang untuk membeli buku dan rugi karena buku yang telah saya beli tidak dapat saya mengerti dan pahami sehingga tidak menambah wawasan pengetahuan apa-apa pada diri saya.

Posted in: Me and Books