Jeritan Atas Kemandulan Hukum Dalam Membela Kaum Perempuan

Posted on April 19, 2011

1



Nawal el-Sa’dawi adalah seorang dokter kelahiran Mesir yang sangat getol dalam membela dan menyuarakan kemerdekaan kaum perempuan pada umumnya dan masyarakat dunia Arab dan Mesir pada khususnya. Dapat dibilang juga bahwa dia adalah tokoh feminis, emansipatoris dan penganut mazhab kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.

Selain sebagai seorang dokter, dia juga seorang penulis yang sangat berani. Tulisan-tulisannya sarat dengan kritik pedas atas sistem patriarkat dan propaganda berapi-api untuk memperjuangkan kaum perempuan, lebih khusus di kawasan negara-negara Arab, negeri kelahirannya, di mana hukum perdata pada masa itu tidak meberi perlindungan dan pengayoman terhadap hak-hak perempuan.

Buku yang berjudul “Tidak Ada Tempat Bagi Perempuan di Surga” ini merupakan naskah yang diterjemahkan dari bahasa Arab dengan judul aslinya “Adab Am Bila Adab”. Buku ini berisi cerita pendek-cerita pendek yang ditulis Nawal el-Sa’dawi mulai tahun 1982 sampai 1998.

Melalui cerita-cerita yang ada di dalam buku ini, Nawal mencoba melukiskan kisah-kisah pilu, sedih dan pedih beberapa perempuan yang termarginalkan secara ekonomi dan kemasyarakatan. Mereka digambarkan seolah-olah tidak memiliki hak-hak apa pun di depan kaum laki-laki. Mereka tidak punya daya, upaya, dan kekuatan untuk berdiri memihak hak-haknya di hadapan laki-laki meskipun laki-laki itu ayah, suami, kakek ataupun keluarga mereka sendiri.

Justru mereka yang dekat secara nasab dengan perempuan-perempuan itulah yang menelanjangi hak-hak mereka. Menjual mereka kepada laki-laki yang kaya demi meraup uang beberapa real atau beberapa pounds untuk menyokong perekonomian keluarganya yang kalang kabut.

Dunia seolah-olah sudah tidak ada kepedulian kepada kaum perempuan. Tidak ada yang berdiri di pihak perempuan sama sekali. Ketika hak-hak perempuan dirampas, diperkosa dan ditelanjangi tidak ada pihak-pihak yang angkat bicara untuk membela. Terlebih lagi, kaum laki-laki justru acap kali menyalahkan perempuan dengan alasan ketaatan kepada sang suami. Kekerasan, penganiayaan, dan eksploitasi seks terhadap perempuan dilegitimasi atas nama ketaatan terhadap suami dan agama.

Sebaliknya, perlakuan laki-laki yang begitu jelas telah melakukan kekerasan terhadap perempuan, melakukan trafficking, justru tidak tersentuh oleh hukum sama sekali. Mereka dilegalkan melakukan kekerasan dengan alasan rasa cemburu dan untuk menjaga kehormatan keluarga. Perempuan—dalam pandangan penulis—hanyalah objek di kehidupan ini. Mereka ibarat meja, sedangkan laki-laki itu adalah palu hakim yang dengan seenaknya dapat melepaskan bogemannya di atas meja tersebut, kesalahan dan kebenaran ditentukan oleh palu. Tidak ada meja yang boeh bersuara sama sekali. Meja, mau tidak mau harus tunduk patuh pada palu yang memukulnya.

Melihat fenomena-fenomena tersebut, hati seorang Nawal tergugah untuk menyuarakan tangisan dan rintihan kaumnya. Dengan lantang dan berbusung dada, dia menuliskan naskah-naskah fenomenal yang menentang hukum pemerintahan yang lebih cenderung patriarkat dan mengabaikan kaum hawa. Dia menuliskan cerpen-cerpen yang sarat dengan kritik pedas, terlebih lagi jika terbaca oleh kalangan laki-laki yang menganut sistem patiarkat dan kalangan agamawan.

Karena tulisan-tulisannya yang berani itu, Nawal pernah dijebloskan ke bui. Bahkan keselamatannya terancam oleh kaum islam konservatif. Pemikiran-pemikirannya dinilai penuh dengan muatan perlawanan terhadap teks-teks agama.

Penjara, tidak membuatnya jera. Di dalam penjara dia justru berhasil menulis buku yang membuat namanya terkenal di dunia internasional. Judul buku itu “Suqut al-Imam” atau Matinya Penguasa.

Jeritan ketidakadilan yang dirasakan perempuan-perempuan digambarkan begitu lugas dan blak-blakan oleh Nawal. Di dalam cerpennya yang berjudul “Tidak Ada Tempat Bagi Perempuan Di Surga” misalnya, dia menceritakan seorang perempuan kulit hitam yang sangat taat beragama. Tidak pernah membangkang sang suami. Sekujur tubuhnya selalu dibungkus dengan kain dan kerudung yang lebar. Tidak pernah melakukan maksiat sama sekali. Seluruh hidupnya dibaktikan pada suaminya. Akan tetapi sang suami justru memperlakukannya secara kasar; memukulinya, memaksanya melayani hubungan seksual meski dia sedang dalam keadaan tidak enak dan lain sebagainya. Dia tidak pernah menuntut sang suami itu sampai ahirnya suaminya meninggal dunia, karena ia merasa bahwa sikap seperti itu adalah bagian dari ketaatan yang harus dia jalankan agar kelak mendapatkan balasan dari Sang Kuasa serta dapat bertemu dan bersama-sama sang suami di dalam surga.

Setelah dia sendiri juga meninggal, dia berusaha mencari sang suami di surga. Tatkala membuka pintu itu, didapatinya sang suami sedang duduk di atas kasur dengan didampingi oleh dua orang perempuan cantik bak bidadari di sisi kanan dan kirinya. Dan ahirnya, dia tidak jadi masuk ke kamar itu untuk menemui suaminya. Cerita itu menggambarkan betapa tidak berartinya seorang perempuan. Dia seolah-olah hanyalah objek dan barang dagangan bagi laki-laki.

Di dunia, seluruh ketaatannya diberikan hanya kepada sang suami. Bahkan ketika dia tersakiti dan pulang ke pangkuan orang tuanya, orang tuanya justru memerintahkan kepadanya untuk kembali kepada suaminya dengan diberikan nasihat bahwa dia akan mendapatkan balasan dan kasih sayang suami kelak di dalam surga. Tapi ternyata, setelah meninggal, dia tidak mendapatkan apa yang pernah dikatakan orang tuanya itu.

Di cerpennya yang lain, Nawal ingin mengungkapkan kegeraman seorang perempuan. Cerpen yang berjudul “Ibu al-Misriyyah Sang Pembunuh”, menceritakan seorang wanita yang dihukum mati karena membunuh anaknya sendiri. Dia membunuh dengan alasan cinta kepada anaknya, dan ingin menjaga anaknya dari rasa sakit, siksaan atau kematian. Dia khawatir kalau anaknya akan mati. Tapi, dia menyembuhkannya dengan cara kematian juga. Kemudian wanita itu ditangkap dan dihukum. Kritik yang ingin diangkat di sini adalah mengapa hukum hanya mengenal satu jenis pembunuhan, yaitu pembunuhan tubuh klinis saja. Padahal di sana masih banyak jenis pembunuhan baik secara kejiwaan maupun pemikiran. Tapi hukum selalu bisu menyikapi dua jenis pembunuhan itu? Padahal dua jenis pembunuhan di atas kerap sekali terjadi terhadap perempuan.

Itulah jeritan yang akan dikemukakan Nawal el-Sa’dawi melalui bukunya “Tidak Ada Tempat Bagi Perempuan di Surga” ini. Dia mencoba membela hak-hak yang harus didapatkan oleh seorang perempuan, di mana pada saat yang sama kaum laki-laki telah memperoleh hak-hak tersebut.

Bagi seorang yang mengaku peduli kepada feminis, emansipatoris dan persamaan gender, perlu mengetahui pemikiran-pemikiran seorang feminis yang satu ini.

Posted in: Me and Books