MEMAKNAI KURBAN

Posted on Desember 11, 2012

2


Hari raya kurban yang jatuh setiap tanggal 10 Zulhijjah merupakan momen sejarah yang sangat berharga bagi umat muslim. Pada hari itu, abu al-anbiya` (ayah para nabi) Ibrahim, memberikan pelajaran dan teladan yang tak ternilai harganya dengan mengorbankan putra semata wayangnya, semata-mata untuk melaksanakan perintah Tuhan. Di dalam mimpinya, Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail. Merasa bahwa mimpi itu merupakan perintah Tuhan, dia segera berusaha melaksanakannya tanpa berpikir panjang.
Sebenarnya, hatinya sangat berat untuk melakukan itu mengingat kelahiran putranya sudah dinanti-nantikan sejak lama. Tapi, apa boleh buat. Perintah Tuhan harus tetap dia kerjakan. Ibrahim meminta pertimbangan kepada putranya mengenai mimpi yang dialaminya. Setelah mendengar penuturan dari sang ayah, Ismail segera meneguhkan hati ayahnya yang masih sedikit ragu. Dengan penuh kepasrahan, dia meyakinkan ayahnya bahwa mimpinya itu benar-benar perintah Tuhan. Ismail berkata kepada ayahnya dengan penuh ketaatan dan keyakinan, “lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, atas ijin Allah aku akan termasuk orang-orang yang sabar.”
Nilai-nilai keteladanan juga ada pada diri Ismail yang rela mengorbankan hak hidupnya demi menjalankan perintah Tuhan. Keteladanan yang bisa kita tiru dari dalam diri Ismail adalah kepasrahan dan ketaatan melaksanakan ketentuan Tuhan meskipun jiwanya sendiri yang menjadi taruhannya. Sikap seperti itulah yang sudah jarang dimiliki oleh kita saat ini.
Dalam rangka mengenang keduanya, Tuhan mensyariatkan kepada umat muslim untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Dalam pensyariataanya, Tuhan juga telah memberikan rambu-rambu bahwa yang dinilai bukanlah materinya, tapi nilai spiritual yang ada di dalam hati pelakunya. Darah, bulu dan daging hewan kurbannya sekali-kali tidak akan sampai pada sisi Allah, hanya ketakwaan si pelaku yang akan dinilai oleh-Nya. Penilaian semacam itu tepat dengan definisi kata kurban sendiri, yang secara harfiah berasal dari kata qa-ra-ba, yang berarti dekat. Tujuan berkurban tidak lain untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Spirit makna kurban seperti yang dikehendaki Tuhan sudah semakin memudar di masyarakat. Orang-orang yang seharusnya mengorbankan diri untuk kepentingan seluruh rakyat justru berlomba-lomba memenuhi kantongnya dengan mengorbankan kepentingan rakyatnya. Di sini logikanya menjadi terbalik. Rakyat kecil yang papa, justru yang lebih banyak berkurban untuk kepentingan wakil-wakilnya yang sudah kaya. Jiwa-jiwa besar seorang pemimpin seperti Ibrahim dan Ismail tidak lagi menjadi cermin keteladanan mereka.
Maka dari itu, kita harus memberi makna yang lebih jelas tentang kurban ini. Apa yang dikurbankan dan siapa yang berkurban. Dengan itu, nilai kurban di sisi Tuhan akan lebih tinggi dari sekadar mengurbankan kambing atau sapi.
Yang harus dikurbankan adalah ego pribadi, golongan maupun partai. Sembelihlah hasrat untuk saling berebut hati rakyat dengan hiasan-hiasan bibir yang berbusa-busa. Buanglah jauh-jauh deal-deal kepartaian yang jika memenangkan perhelatan, logika permainannya hanya berkutat pada deal-deal itu, bagaimana siasat memenangkan perhelatan selanjutnya, tidak akan pernah membahas kesejahteraan seluruh rakyat. Kubur dalam-dalam logika perdagangan dalam kampanye. Semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk kampanye, semakin banyak pula kas negara yang dikuras untuk mengembalikan modal jika dia terpilih. Karena itulah yang menyebabkan korupsi menjamur di mana-mana dan sulit dihapus dari kebudayaan wakil-wakil rakyat kita.
Siapa yang berkurban di negeri kita saat ini? Jawabannya adalah rakyat. Selain sudah berkurban untuk wakil-wakilnya, mereka telah dikurbankan oleh wakil-wakilnya juga. Ironis. Maka dari itu, peringatan hari raya kurban merupakan momen yang tepat untuk menegaskan kembali makna yang terkandung di dalamnya. Kurban diperintahkan bagi orang yang sudah mampu. Orang yang terpilih menjadi wakil rakyat berarti sudah dianggap memiliki kemampuan oleh rakyat untuk berkurban. Yang harus dikurbankannya bukanlah rakyat, melainkan waktu dan tenaga. Waktu dan tenaganya harus benar-benar dikurbankan untuk kepentingan seluruh rakyat, bukan kepentingan golongan dan partai. Dalam berkurban dibutuhkan totalitas. Totalitas waktu, totalitas tenaga harus benar-benar tercurah untuk kesejahteraan rakyat.
Jika para wakil rakyat mau mengurbankan ego pribadi dan berkurban untuk kesejahteraan rakyat, maka nilai ketakwaan di sisi Tuhannya tentu lebih besar dari mengurbankan seekor kambing atau sapi.

Posted in: Refleksi